++[TUTUP]2X klik[DISINI]++
BLOG INI BLOG NYA ORANG GOBLOG, silakan register atau Login terlebih dahulu
  • ***** daftar jadi moderator disini
    • ***** peraturan forum disini

Wasiat Rasulullah SAW Kepada Para Sahabat

Wasiat Rasulullah SAW Kepada Para Sahabat


Rasulullah sering memberikan nasehat-nasehat dan petunjuk kepada para sahabatnya untuk membiming meraka dalam hidup ini guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Wasiat dan nasehat itu ada yang diberikan beliau di muka majlis ilmu pengetahuan di tengah para sahabat yang banyak mendengarkan, dan adakalanya beliau sampaikan melalui pribadi demi pribadi dan oleh yang bersangkutan kelak disampaikan pula kepada orang banyak.
Dan beberapa waktu sebelum beliau wafat, maka beliau telah menyampaikan pesan-pesan dan nasehat-nasehat yang berhaga kepada tokoh-toko sahabat yang terkemuka yang terdekat denga beliau sepperti halnya kepada Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah ra.

Ali bin Abi Thalib tidak asing lagi adalah kader beliau yang pertama kali menerima gemblengan dari Nabi SAW dan adalah pemuda yang pertamakali masuk Islam yang kemudian ternyata berhasil menjadi menantu Rasulullah selaku suami dari anak beliau tersayang Fatimah Az-Zahra’ binti Rasulullah. Sedang Abu Hurairah adalah sahabat terdekat dengan beliau, kader Nabi SAW selaku ahlus suffah orang-orang yang diasramakan di samping Masjid Nabi untuk dibina dan di gembleng secara khusus untuk melanjutkan perjuangan Rasulullah dalam segala bidang perjuangan.

Abu Hurairah sangat menonjol sebagai ahli hadits yang banyak hafal hadits Rasulullah sebanyak tidak kurang dari 5364 buah hadits. Benarlah Imam Syafi’I yang mengatakan, bahwa Abu Hurairahlah diantara para sahabat Nabi SAW yang paling banyak hafal hadits Nabi itu. Adalah keistimewaan Abu Hurairah, bahwa ia menerima hadits tanpa catatan, karena hatinya terang dan otaknya gemilang berkat dido’akan oleh Rasulullah SAW. Karena demikian dekatnya beliau dengan Rasulullah, maka Nabi SAW sering memberikan pesan-pesan nasihat yang berharga kepadanya seperti yang dapat dibaca kelak dibawah ini nanti.

1. Wasiat Rasulullah Kepada Ali bin Abi Thalib
Ali bin Abi Thalib berkata; “Bahwa Rasulullah berwasiat kepadaku dengan sabda beliau demikian bunyinya :

“Ya Ali! Aku berwasiat kepadamu dengan sesuatu wasiat, maka jagalah dia baik-baik, karena selama engkau memelihara wasiat itu niscaya engkau akan tetap berada dalam keadaan kebaikan.

“Ya Ali! Bagi orang Mukmin itu ada tiga tanda yang menjadi cirri-ciri khasnya: Melakukan sholat, berpuasa dan berzakat. Dan bagi orang munafiq (berpura-pura beriman) ada pula tiga tandanya: berpura-pura sayang jika berhadapan, bergunjing di belakang, dan girang bila orang lain mendapat musibah.

“Bagi orang yang zhalim ada pula tiga cirri-ciri: Menggagahi orang bawahannya dengan kekerasan, orang diatasnya dengan kedurhakaan dan melahirkan kezhalimannya dengan terang-terangan.

Bagi orang yang riya ada tiga tandanya : Rajin bila ia berada di hadapan mata orang ramai, malas bila sendirian dan ingin dipuji untuk semua perkara.
Bagi orang munafiq ada tiga alamat : Bohong bila ia bicara, mungkir (ingkar) bila iaberjanji, dan khianat bila dipercayaya.

“Ya Ali! Bagi orang pemalas ada tiga tanda : menunda-nunda waktu sampai sia-sia, menyia-nyiakan kesempatan sampai luput dan melalaikannya sampai berdosa.

Dan tidak pantas bagi orang yang berakal, bahwa ia menonjolkan dirinya kecuali kepada tiga perkara: berusaha untuk penghidupan, atau mencari hiburan dalam suatu perkara yang tidak terlarang atau untuk mengenangkan hari berbangkit (akhirat)

Ya Ali! Di antara bukti orang yang yakin percaya kepada Allah bahwa engkau tidak memberi kerelaan seseorang dengan melalui murka Allah; bahwa tidak engkau sanjung-sanjung seseorang atas karunia Allah yang engkau terima, dan bahwa tidak engkau cela seseorang bila engkau tidak mendapatkan karunia Allah. Ingatlah, bahwa rezeki keuntungan itu tidak dapat diraih oleh orang yang sangat loba mendapatkannya dan tidak dapat pula dielakkan walaupun oleh orang yang tidak menyukainya. Dan bahwa Allah SWT menjadikan nikmat karunia dan kelapangan itu dalam yakin dan rela dengan pemberian Allah, dan ia menjadikan kesusahan dan kedukaan itu dalam murka terhadap rezeki yang telah ditentukan oleh Tuhan.

“Ya Ali! Tidak ada kefakiran yang lebih hebat daripada kebodohan, tidak ada harta yang lebih berharga daripada akal, tidak ada kesepian yang lebih sunyi dari pada ujub (kagum kepada diri sendiri) tidak ada kekuatan yang lebih kuat daripada musyawarah, tidak ada Iman yang lebih dekat daripada keyakinan, tidak ada wara’ yang lebih baik daripada menahan diri, tidak ada keindahan seindah budi-pekerti, dan tidak ada ibadah yang melebihi tafakur.

“Ya Ali! Bahwa segala sesuatu itu ada penyakitnya. Penyakit bicara adalah bohong, penyakit ilmu adalah lupa, penyakit ibadah adalah riya; penyakit budi perkerti adalah memuji diri, penyakit berani adalah agresif, penyakit pemurah adalah menyebut-nyebut pemberian, penyakit cantik adalah sombong, penyakit mulia adalah menonjolkan diri, penyakit kaya adalah kikir, penyakit royal adalah berlebih-lebihan, dan penyakit agama adalah hawa nafsu.

“Ya Ali! Apabila engkau disanjung orang dihadapanmu, maka bacalah kalimat ini: Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik daripada apa yang mereka katakan! Ampunilah dosaku apa yang mereka tidak ketahui, dan janganlah aku disiksa tentang apa-apa yang mereka telah ucapkan!

“Ya Ali! Apabila engkau puasa sampai petang hari, maka ucapkanlah dikala engkau berbuka: Ya Allah! Untukmulah aku berpuasa dan atas rezeki-Mu aku berbuka, niscaya dituliskan bagimu pahala orang yang berpuasa pada hari itu dengan tidak kurang sedikitpun juga daripada pahala mereka. Ketahuilah olehmu bahwa bagi setiap orang yang berpuasa itu ada do’a yang diperkenankan.

Maka jika ia pada permulaan suapnya waktu akan makan mengucapkan: Bismillahirrahmaannirrahiim Ya Wasi’al magfirah ighfirlii – dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, wahai Tuhan yang Maha Luas Pengampunan-Nya, ampunilah aku ini – maka barangsiapa mengucapkan- nya dikala berbuka, niscaya diampuni Tuhan dosanya. Ketahuilah olehmu, bahwa puasa itu adalah perisai yang akan menangkis bahaya api neraka.

“Ya Ali! Perbanyaklah membaca surah Yassin, karena dalam membacanya itu terdapat sepuluh macam berkat. Tak ada orang yang membacanya pada waktu lapar (puasa) melainkan kenyang, tidak orang haus kecuali lepas hausnya, tidak ada orang yang bertelanjang melainkan ia akan beroleh pakaian, tidak ada orang sakit melainkan sembuh, tidak ada orang yang takut melainkan aman, tidak ada orang yang dipenjarakan melainkan lepas, tidak akan orang yang bujangan melainkan kimpoi, tidak ada musyafir, melainkan matanya terang dalam perjalanan; tidak membacanya orang yang kehilangan sesuatu benda melainkan mendapatkannya kembali, tidak dibacakan ia di atas orang yang akan hampir sampai ajalnya melainkan diringankan baginya. Barangsiapa yang membawanya di waktu Subuh niscaya ia akan aman sampai petang; dan barang siapa yang membacanya diwaktu petang, niscaya ia akan berada dalam keadaan aman santosa sampai pagi.

“Ya Ali! Bacalah surat Hammim Ad-Dhukan pada malam Jum’at, niscaya Tuhan memberikan keampunan bagimu. “Ya Ali! Bacalah surat Hasyar niscaya engkau berkumpul pada hari Kiamat dalam keadaan aman santosa dari segala sesuatu. “Ya Ali! Bacalah surat Tabaraka dan As-Sajdah niscaya berkat keduanya engkau diselamatkan Tuhan dari marabahaya hari Kiamat.

“Ya Ali! Bacalah surat Tabaraka pada waktu akan tidur, niscaya engkau akan selamat dari azab kubur dan dari pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir.
Ya Ali! Bacalah Qulhuwallahu Ahad dalam keadaan engkau berwudhu’, niscaya nanti engkau akan diseru pada hari Kiamat: Hai pemuji Tuhan, bangkitlah, maka kemudian masuklah ke dalam surga!.
“Ya Ali! Bacalah Surat Al-Baqarah, karena sesungguhnya dalam membacanya itu ada membawa berkat, dan tidak mau membacanya itu membawa penyesalan.

“Ya Ali! Janganlah terlalu lama duduk di bawah cahaya terik matahari, karena itu akan menimbulkan penyakit lama kambuh kembali, merusak pakaian dan mengubah warna muka.

“Ya Ali! Engkau akan aman dari bahaya kebakaran jika engkau mengucapkan : Subhana Robbi Lailaha Illa Anta ‘Alaika Tawakkaltu wa Anta Robbul Arsyl ‘Azhiim. Maha Suci Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau. KepadaMulah aku tawakal dan Engkaulah Tuhan Arsy yang besar.

“Ya Ali! Engkau aman dari was-was setan bila engkau baca: (Al-Isra’ : 45-46) yang artinya:

Apabila engkau membaca Al-Qur’an, Kami (Allah) adakan dinding yang menutup antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat …….. sampai pada ayat mereka berpaling lari kebelakang.

“Ya Ali! Engkau akan aman dari segala kejahatan bila engkau membaca :

Artinya : Apa yang dikehendaki Allah terjadi dan apa yang tidak dikehendakiNya tidak akan terjadi. Aku mengaku bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu, dan bahwa Dia menghitung bilangan segala sesuatu (dengan tepat), dan tidak ada daya dan kekuatan melainkan di tangan Allah.

“Ya Ali! Apabila engkau makan, maka bacalah “Bismillah” dan apabila selesai makan ucapkanlah ”Alhamdulillah” karena sesungguhnya kedua malaikat yang menjagamu tidak akan berhenti menuliskan kebajikan-kebajikan untukmu sampai engkau menyingkirkannya sendiri dari sisimu.

“Ya Ali! Apabila engkau melihat bulan sabit pada awal bulan ucapkanlah “Allahu Akbar” tiga kali lalu berdo’a:

Artinya : “Dan segala puji bagi Allah yang telah menjadikan aku dan engkau, dan menentukan tempat-tempat tinggal engkau, dan menjadikan engkau sebagai bukti bagi seluruh alam.

Niscaya Allah SWT membanggakan engkau kepada para malaikat-malaikatNya dengan firmanNya : “Hai para Malaikat! Saksikanlah olehmu, bahwa Aku membebaskan hambaKu ini dari sentuhan api neraka”.

“Ya Ali! Apabila engkau berdiri di hadapan kaca, maka ucapkanlah:

“Ya Allah! Sebagaimana Engkau telah mengindahkan kejadianku, maka indahkan pulalah budi pekerti dan beri rezekilah aku”.

“Ya Ali! Apabila engkau melihat air sungai yang menakutkanmu maka takbirlah tiga kali dan ucapkanlah:

“Allah Maha Besar, Maha Agung, dan Lebih Mulia daripada yang aku takuti dan khawatirkan. Ya Allah, aku menempatkan kekuasaan Engkau pada lehernya, dan aku berlindung kepada Engkau dari kejadiannya”.

niscaya engkau akan selamat dalam perlindungan Allah.

“Ya Ali! Apabila engkau melihat anjing menggonggong, maka ucapkanlah:

“Hai kelompok jin dan manusia, jika kalian sanggung menembus batas-batas langit dan bumi, maka cobalah tembus! Tetapi kalian tidak akan mampu kecuali dengan kekuasaan (ilmu pengetahuan). (Ar-Rahman:38)

“Ya Ali! Apabila engkau ke luar rumahmu untuk sesuatu hajat keperluan, maka bacalah ayat Kursi, niscaya hajat engkau Insya Allah akan sampai.

“Ya Ali! Bila engkau berwudhu maka bacalah: “Bismillahi wa sholatu ‘ala rosuulillah”

“Ya Ali! Lakukanlah sholat di tengah malam agak sebentar walaupun sesingkat kadar waktu memerah susu kambing dan berdo’alah kepada Allah diwaktu sahur (dinihari) niscaya do’amu makbul, tidak ditolak. Karena Allah SWT telah berifrman: “Dan mereka yang memohon ampun diwaktu-waktu sahur” (dini hari)

“Ya Ali! Mandikanlah orang yang meninggal dunia, karena barangsiapa yang memandikannya niscaya Tuhan mengampuni dosanya dengan tujuhpuluh ampunan. Dan andaikata engkau bagi-bagikan pula keampunan itu untuk sekian makhluk, tentu Allah akan meluaskan pula keampunan itu bagi mereka.

Aku (Ali) bertanya kepada beliau: “Apakah yang diucapkan oleh orang yang memandikan mayit? Rasulullah SAW menjawab: “Ghufraanaka yaa rahmaan” Mohon ampunanMu ya Allah Yang Maha Pengasih! Sampai selesai memandikannya.

“Ya Ali! Janganlah berpergian musyafir seorang diri, karena setan beserta orang yang sendirian, dan ia lebih menjauhkan diri dari orang yang kedua”.

“Ya Ali! Orang yang bermusyafir sendirian sesat sendiri, bila berdua sesat berdua, dan bertiga itu dinamakan suatu rombongan.

“Ya Ali! Bila engkau musyafir, janganlah menempati lembah, karena itu adalah tempat sarang-sarang binatang-binatang buas dan ular.

“Ya Ali! Apabila lahir anakmu laki-laki ataupun perempuan maka adzankanlah di telinga yang kanan dan komatkanlah do telinganya yang kiri, maka dengan itu ia tidak bisa diganggu setan.

“Ya Ali! Janganlah engkau bersetubuh dengan istrimu pada malam bulan sabit baru muncul, dan tidak pula pada pertengahan bulan, karena dikhawatirkan anakmu akan cacat.

Aku (Ali) bertanya: “Kenapa demikian ya Rasul Allah?”

“Karena jin banyak mendatangi wanita-wanita pada malam tengah bulan dan pada malam Hilal (bulan sabit). Apakah engkau tidak perhatikan, bahwa orang-orang gila itu bisa kambuh penyakitnya kembali pada malam tengah bulan dan malam Hilal itu? Jawab Rasulullah SAW.

“Ya Ali! Apabila engkau berada dalam keadaan kesusahan, maka ucapkanlah:
“Ya Allah, aku memohon kepadaMu dengan hak Muhammad dan keluarga Muhammad supaya Engkau membebaskan aku (dari kesusahan).

Dan apabila engkau memasuki suatu kota atau kampung maka bacalah dikala melihatnya:
“Ya Allah aku mohon kepada-Mu akan kebaikan yang ada di kota ini, dan kebaikan apa yang aku lakukan padanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan yang aku lakukan padanya. Ya Allah berilah aku rezeki atas kebaikannya dan lindungilah aku dari kejahatannya, dan jadikanlah aku cinta kepada penduduknya, dan jadikan pulalah penduduknya yang saleh cinta kepada kami!””

“Ya Ali! Apabila engkau menempati sesuatu tempat maka ucapkanlah:

“Ya Allah tempatkanlah kami ditempat yang berkah dan Engkaulah sebaik-baik Yang memberikan tempat; Engkau berikan kebaikannya serta tolak kejahatannya”.

“Ya Ali! Jauhkanlah dirimu dari sifat riya’, karena hikmahnya tidak dapat dimengerti dan fitnahnya tidak dapat dielakkan.

“Ya Ali! Janganlah engkau memakai cincin pada jari telunjuk dan jari malang(tengah), karena itu adalah perbuatan kaum Luth.

“Ya Ali! Jauhilah sengketa karena itu akan menghapus amalan-amalan engkau.
“Ya Ali! Janganlah engkau hardik orang yang datang meminta pertolongan sekalipun ia datang dengan menunggang kuda, dan berilah ia, karena sedekah itu labih dahulu jatuh ke tangan Allah (untuk diberikan pahala, Pen) sebelum jatuh ke tangan peminta.

“Ya Ali! Segeralah bersedekah, karena bala bencana itu tidak bisa melangkah mendahului sedekah.
“Ya Ali! Jadilah engkau orang yang berbudi luhur, karena dengan itu engkau akan mencapai derajat orang yang melakukan ibadah puasa dan orang yang melakukan ibadah sholat malam.

“Ya Ali! Jauhilah kemarahan, karena setan menguasai anak cucu Adam dalam keadaan ia marah.
“Ya Ali! Jauhilah olok-olok, karena hal itu akan menghilangkan kehebatan anak cucu Adam dan kesungguhannya.

“Ya Ali! Bacalah Qul Huallahu Ahad karena itu mencegah kefakiran. Dan jauhi pulalah riba, karena padanya terdapat enam perkara; tiga di dunia dan tiga di akhirat. Adapun yang di dunia, ia akan cepat memusnahkan harta benda, melenyapkan kekayaan, dan menghapuskan rezeki. Adapun yang di akhirat, maka ia akan membawa buruk perhitungan (hisab), kemurkaan Tuhan Azza wa Jalla dan kekal di dalam neraka.

“Ya Ali! Apabila engkau masuk ke rumahmu, maka ucapkanlah salam kepada keluarga rumahmu!”
“Ya Ali! Cintailah kaum fakir miskin, niscaya Allah akan cinta pula kepadamu”.
“Ya Ali! Janganlah bentak fakir miskin, niscaya engkau akan di bentak oleh malaikat pada hari kiamat.
“Ya Ali! Janganlah engkau abaikan sedekah, karena ia akan menolak kejahatan dari dirimu.

“Ya Ali! Keluarkanlah infak hartamu dan berilah kelapangan terhadap familimu, dan janganlah khawatir terhadap Tuhan yang memiliki Arsy bahwa Ia akan menyediakan karunia-Nya kepadamu.

“Ya Ali! Apabila engkau mengendarai kendaraan maka ucapkanlah:
“Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan dan memberi hidayah kepada kami untuk memeluk Islam, dan juga orang yang bersama kami dengan petunjuk Nabi Muhammad SAW. Segala puji bagi Allah yang telah memudahkan kendaraan ini bagi kami, dan kami tidak berkuasa padanya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. (Az-Zukhruf, 13-14)

“Ya Ali! Janganlah marah apabila dikatakan kepadamu: Ittaqillah (takutlah kepada Allah), maka hal itu akan membahayakanmu pada hari kiamat.

“Ya Ali! Sesungguhnya Allah kagum kepada hamba-Nya dikala ia bermohon kepada Tuhan:
Ya Allah, ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau.
Lantas Allah berfirman kepada para malaikat; “Hai para malaikat! hambaKu ini tahu, bahwa tidak ada yang akan mengampuni dosanya selain Aku, maka saksikanlah oleh kamu semua, bahwa Aku telah memberi ampun baginya”.

“Ya Ali! Apabila engkau memekai pakaian baru, maka ucapkanlah:
“Dengan nama Allah dan segala puji bagi Allah yang telah memberi aku pakaian yang bisa menutupi auratku, dan dengan itu aku tidak perlu mengharapkan orang lain”.
Dan kalau kain sampai kepada kedua lututmu, Allah telah memberi ampun kepadamu.

“Ya Ali! Barang siapa yang memakai kain baru, kemudian ia beri pula kepada fakir miskin atau anak yatim yang telanjang, niscaya dia berada dalam jaminan Allah tentang keselamatan dan penjagaannya selama kain itu dipakainya”.

“Ya Ali! Bila engkau masuk pasar, maka ucapkanlah dikala engkau masuk:
Dengan nama Allah, dan demi Allah aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.
Niscaya Allah berfirman: “HambaKu ini mengingat Aku dikala orang lain lalai. Saksikanlah olehmu bahwa Aku telah memberi ampun kepadanya”.

“Ya Ali! Sesungguhnya Allah kagum terhadap orang yang mengingatnya di dalam pasar. Apabila engkau masuk masjid, maka ucapkanlah:
Dengan nama Allah dan keselamatan atas Rasul Allah. Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu Rahmat-Mu.
Dan apabila engkau keluar masjid maka ucapkanlah:
Dengan nama Allah dan keselamatan atas Rasul Allah. Bukakanlah bagiku pintu-pintu Karunia-Mu

“Ya Ali! Apabila engkau mendengar orang adzan, maka ucapkanlah (sahutlah) seperti apa yang disebut oleh Muadzin, niscaya dituliskan bagimu pahala seperti apa yang diterimanya.

“Ya Ali! Apabila engkau selesai berwudhu’ maka ucapkanlah :
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku mengaku bahwa Muhammad Rasul Allah. Ya Allah jadikanlah aku dari golongan mereka yang taubat, dan jadikanlah aku dari golongan mereka yang telah bersuci.
Niscaya engkau keluar dari dosamu seperti halnya dilahirkan ibumu, dan dibukakan bagimu delapan pintu surga dengan ucapan: masuklah engkau dari jurusan mana saja engkau mau!.

“Ya Ali! Apabila engkau selesai makan maka ucapkanlah:
Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, dan telah menjadikan kami kaum muslim.
“Ya Ali! Apabila engkau selesai minum maka ucapkanlah:
Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami air minum, menjadikannya tawar lagi sejuk dengan rahmat-Nya, dan tidak menjadikannya garam yang asin karena dosa-dosa kami.
Niscaya engkau tercatat sebagai orang yang bersyukur.


“Ya Ali! Jauhilah berdusta, karena dusta itu menghitamkan muka, dan bila seseorang senantiasa berdusta dia akan dinamakan di sisi Tuhan si pendusta, dan bila ia benar, maka ia akan dinamakan di sisi Tuhan sebagai orang yang benar.

“Ya Ali! Janganlah sekali-kali mempergunjingkan seseorang, karena sesungguhnya gunjing itu membatalkan puasa, dan orang yang suka bergunjing orang lain itu kelak akan memakan dagingnya dihari kiamat.

“Ya Ali! Janganlah bersumpah atas nama Allah dengan berbohong.
“Ya Ali! Janganlah engkau jadikan nama Allah sebagai sasaran sumpahmu, karena Allah tidak sayang dan tidak senang kepada orang yang memakai namaNya dengan sumpah palsu.

“Ya Ali! Kuasailah lisanmu dan biasakanlah dia mengucapkan yang baik, karena tidak ada yang lebih berbahaya bagi manusia pada hari Kiamat melebihi ketajaman lisannya.
“Ya Ali! Jauhilah pencerca, karena orang yang mencerca dengan dengan membuka rahasia orang lain itu tidak akan masuk surga.

“Ya Ali! Jauhilah sifat mendendam, karena itu akan merupakan penyesalan kelak.

“Ya Ali! Jauhilah sifat loba, karena kelobaan itu telah menyebabkan Bapakmu (Adam) dari surga.
“Ya Ali! Jauhilah sifat dengki, karena dengki itu memakan segala kebajikan, seperti halnya api memakan kayu bakar.
“Ya Ali! Celakalah orang yang berbohong untuk membuat orang tertawa. Celakalah baginya, celakalah baginya!.

“Ya Ali! Biasakan bersugi, karena hal itu menyucikan mulut, menyenagkan Tuhan, dan membersihkan gigi.
“Ya Ali! Jangan lupa mencungkil makanan yang melekat di celah-celah gigi, karena tidak ada yang lebih dibenci Malaikat daripada melihat makanan yang melekat di celah-celah gigi seseorang.

Aku (Ali) bertanya kepada Rasulullah: “Haraplah terangkan kepadaku tentang firman Allah yang berbunyi: sesudah itu Adam menerima kalimat dari Tuhan-Nya , lalu Allah mengampuninya.” Kalimat-kalimat apakah itu? (Al-Baqarah 37). Nabi menjawab; “Allah menurunkan Adam di bumi India, hawa di Jeddah, ular di Ispahan dan Iblis di negeri Baisan. Maka tinggalah Adam seratus tahun lamanya tidak berani mengangkat kepalanya dalam keadaan menangisi kesalahannya, duduk termenung dalam duka. Kemudian Allah utus malaikat dengan mengucapkan salam;

“Assalamu’alaikum ya Adam!” Allah SWT menyampaikan salam bagimu dan Ia berkata buat engkau: “Bukankan Aku (Allah) telah jadikan engkau dengan tanganKu sendiri dan Aku tiupkan kepadamu roh ciptaanKu? Bukankah Aku telah memerintahkan Malaikat bersujud kepadamu? Bukankah Aku telah mengawinkan engkau dengan Hawa, hambaKu? Tangis apa jugakah lagi ini?”

- Adam: “Ya jibril! Bagaimana aku tidak akan menangis, padahal aku telah dikeluarkan dari sisi Tuhanku!”
- Jibril: “Ya Adam, ucapkanlah kalimat-kalimat ini, karena sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa engkau dan telah menerima taubat engkau”.
- Adam: Apakah kalimat-kalimat itu?”
- Jibril: “Ucapkanlah: ‘Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepadaMu dengan hak Muhammad dan keluarga Muhammad, maha suci engkau Ya Allah dan dengan memujiMu aku mengaku telah melakukan perbuatan salah dan aku telah menganiaya diriku sendiri; bahwa tak ada yang dapat mengampuni segala dosa kecuali hanya Engkau. Berilah aku rahmatMu karena engkau adalah sebaik-baik Dzat yang memberi rahmat. Maha suci Engkau dan dengan memuji Engkau, yang tak ada Tuhan melainkan Engkau; aku telah melakukan kesalahan dan menganiaya diriku sendiri, dari itu berilah aku taubat, sesungguhnya Engkaulah maha Penerima Taubat lagi Maha Pengasih dan Penyayang. Dengan memujiMu, tidak ada Tuhan melainkan Engkau, aku telah melakukan perbuatan salah dan menganiaya diriku, maka ampunilah aku dan engkaulah sebaik-baik pemberi ampun!”

Itulah yang dimaksud dengan “kalimat-kalimat” itu.

“Ya Ali! Apabila engkau melihat ular di jalan maka bunuhlah ia, karena aku telah memberikan ketentuan kepada jin bahwa mereka tidak akan muncul dalam rupa ular di jalanan. Barangsiapa melanggar ketentuan itu maka silahkan membunuhnya.

“Ya Ali! Ada empat perkara yang membawa celaka; mata yang beku (tak sudi mengeluarkan air mata), kesat hati, panjang angan-angan, dan tergoda oleh dunia.

“Ya Ali! Aku melarangmu degan empat perkara; iri hati, loba, bohong dan pemarah.

“Ya Ali! Maukah engkau aku beritahukan tentang sejahat-jahat manusia? Aku menjawab: tentu Ya Rasul Allah!
Yakni: orang yang musafir sendirian dan melarang orang lain turut besertanya dan suka memukul hamba sahaya (pembantunya). “Maka maukah engkau aku beritahu apa yang lebih buruk daripada itu semua? “Tentu ya Rasul Allah!” “Yaitu orang yang tidak bisa diharapkan kebajikannya dan tidak aman manusia dari kejahatnnya,” jawab Nabi.

“Ya Ali! Apabila engkau melakukan sholat jenazah anak kecil ucapkanlah dalam do’amu;
Ya Allah, jadikanlah ia bagi kedua ibu-bapaknya sebagai pendahulu, jadiakan ia bagi keduanya sebagai simpanan, jadikanlah ia bagi keduanya sebagai bimbingan, jadikanlah dia bagi keduanya sebagai cahaya, jadikanlah dia bagi keduanya sebagai tabungan, iringilah orangtuanya dengan surga, janganlah halangi pahala keduanya, dan jangalha timbulkan fitnah bagi keduanya sepeninggal anaknya itu!.

“Ya Ali! Apabila engkau berwudhu’ maka ucapkanlah:
Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kesempurnaan Wudhu’, kesempurnaan ampunan-Mu serta ridha-Mu.

“Ya Ali! Perhatikanlah wasiatku ini baik-baik niscaya engkau berada dalam kebenaran dan kebenaran akan senantiasa bersamamu.


2. Wasiat Nabi SAW kepada Abu Hurairah RA.

Pad suatu ketika Rasulullah bertanya kepada sahabaatnya : “Siapakah diantar kalian yang akan menerima beberapa patah kata dari saya untuk diamalkan atau diajarkan kepada orang-orang yang akan mampu mengamalkannya?”

“Saya Ya Rasulullah,” sahut Abu Hurairah sambil mengangkat tangannya. Kemudian Rasulullah memegang tangan Abu Hurairah dan beliau menghitung dari satu sampai lima, maka beliau bersabda :

1. Jauhkanlah dirimu dari segala yang terlarang (haram), niscaya engkau akan menjadi
orang yang paling abid berbakti diantara manusia.
2. Bersikap relalah terhadap apa yang telah dibagikan Tuhan kepadamu, niscaya
engkau akan kaya-raya.
3. Berbuat kebajikanlah terhadap tetanggamu, niscaya engkau jadi orang mukmin
sejati.
4. Cinta kasihlah kepada manusia sebagaimana engkau sayang pada dirimu sendiri,
niscaya engkau jadi orang Islam yang hakiki.
5. Dan janganlah engkau terlalu banyak tertawa, karena kebanyakaan tertawa itu
akan mematikan hati.

Dan pada lain waktu Rasulullah memberikan wasiatnya pula pada Abu Hurairah yang antara lain bunyinya seperti ini:

Hai Abu Hurairah! Apabila engkau bersetubuh dengan istri dan hamba sahayamu, maka ucapkanlah “Bismillah wal Hamdulillah”. Apabila engkau selalu memperhatikan hal ini, engkau akan beroleh kebajikan-kebajikan sampai engkau mandi junub. Apabila engkau telah selesai mandi junub, maka Allah mengampuni dosa-dosamu. Tetapi jika engkau memperoleh anak dari hasil senggama itu, maka telah ditulis kebajikan untukmu sebanyak kali nafas itu keluar, dan dihapuskan dosamu.

Hai Abu Hurairah! Janganlah engkau jadikan hamba sahaya (pembantu)mu sedemikian takut kecutnya kepadamu. Ingatlah jika engkau mati sedang berbuat hal yang demikian itu niscaya engkau akan dituntut di hadapan Allah SWT.

Hai Abu Hurairah! Jangan sekali-kali engkau meninggalkan (menceraikan) istrimu, melainkan sedang ia berada dirumahnya, janglah sekali-kali memukulnya dan mencaci-makinya kecuali demi untuk urusan agamanya. Jika engkau berlaku demikian, di dunia engkau berjalan di jalan raya, sedang di akhir akan dibebaskan Tuhan dari sentuhan api neraka.

Hai Abu Hurairah! Singkirkanlah duri dari jalan yang akan dilalui orang yang lebih mulia daripadamu, yang lebih kecil daripadamu, labih baik daripadamu dan bahkan orang yang lebih buruk daripadamu. Jika engkau berbuat demikian, niscaya Allah membanggakan engkau kepada para malaikat-Nya, dan barangsiapa yang dibanggakan Allah kepada para malaikat-Nya, niscaya ia muncul pada hari kiamat dalam keadaan aman dari segala yang buruk.

Hai Abu Hurairah! Sekiranya engkau menjadi Raja (Kepala Negara) atau menjadi menteri (pembantu raja), atau datang menghadap raja atau menjadi penasihat raja, maka janganlah engkau melampaui sirrah dan sunnahku. Karena sembarang raja manapun atau pembantu (menteri) raja manapun, atau siapapun yang datang menghadap kepada Raja atau penasihat raja yang menyalahi sirrah dan sunnahku, dia akan datang pada hari kiamat di kepung api neraka dari segala penjuru.

Hai Abu Hurairah! Adil sesaat itu lebih baik daripada beribadah enam puluh tahun lamanya, yang malamnya berisi dengan sholat malam dan siang harinya dengan ibadah puasa.
Hai Abu Hurairah! Katakanlah kepada orang-orang yang beriman yang pernah melakukan dosa-dosa kecil ataupun besar, janganlah mati salah seorang pun diantara mereka sedang ia masih bergelimang dengan dosa-dosa itu. Karena barang siapa yang menghadap Tuhannnya dalam keadaan yang demikian itu, maka siksaan atas dosa kecil yang terus menerus dilakukannya itu sama halnya dengan orang yang menghadap Tuhannya dalam keadaan berdosa besar yang terus menerus dikerjakannya pula.

Hai Abu Hurairah! Sesungguhnya, bahwa engkau menghadap Tuhanmu dengan membawa dosa yang besar yang engkau telah taubat daripadanya lebih baik bagimu daripada engkau menemui-Nya padahal engkau telah mempelajari (menghafal) ayat-ayat Al-Qur’an kemudian engkau melupakannya.


Hai Abu Hurairah! Janganlah sekali-kali engkau melaknat (mengutuk) para pemimpinmu (Islam), karena Tuhan akan memasukkan suatu ummat ke dalam neraka jahanam dengan tersebab mereka telah mengutuk pemimpinnya.

Hai Abu Hurairah! Janganlah engkau senang mencaci maki kecuali terhadap setan. Sesungguhnya jika engkau mati dalam keadaan yang demikian, tanganmu kelak akan dijabati (disalami) oleh semua Rasul Allah, para Nabi Allah dan orang-orang yang beriman sampai engkau melangkah ke dalam surga.

Hai Abu Hurairah! Berilah makan kenyang anak yatim dan janda, dan berlakulah sebagai bapak yang pengasih dan penyayang kepada anak yatim, dan berlakulah sebagai suami yang penyantun terhadap wanita janda, niscaya engkau akan diberi ganjaran pada setiap tarikan nafas yang engkau nafaskan(tiup) selama hidup di dunia dengan sebuah mahligai di dalam surga. Setiap mahlighai lebih baik dari dunia ini dengan segala keindahan yang ada padanya.

Hai Abu Hurairah! Berjalanlah engkau ke Masjid Allah di dalam kegelapan malam, niscaya engkau akan diberi Tuhan kebajikan-kebajikan dengan setimbang berat sesuatu yang telah engkau pijak dengan kedua kakimu dari apa-apa yang engkau cintai dan benci sampai pada tujuh petala bumi.

Hai Abu Hurairah! Hendaklah engkau jadikan masjid –masjid, ibadah haji dan ‘umrah serta jihad fi sabilillah sebagai pusat perhatianmu. Sesungguhnya jikalau engkau mati dalam keadaan yang demikian itu, maka Allah SWT akan menghiburmu di dalam kubur, di hari kiamat, diwaktu menyebrangi Siratal Mustaqim, dan Dia (Allah) berbicara dengan engkau di dalam surga.

Hai Abu Hurairah! Janganlah marah bila di katakan kepadamu “takutlah kepada Allah” padahal engkau telah bermaksud untuk berbuat kejahatan. Jika engkau melakukannya, maka ganjaran perbuatanmu itu adalah api neraka.

Hai Abu Hurairah! Barangsiapa yang dikatakan orang kepadanya: “Takutlah kepada Allah” sedang ia marah terhadap hal itu, maka ia akan disuruh berdiri pada hari kiamat di suatu tempat di mana setiap ada malaikat yang lewat ia akan bertanya kepada orang itu: Engkaukah gerangan orang yang bila dikatakan kepadanya : Takutlah kepada Allah, ia menjadi marah? Padahal yang demikian akan mencelakakan diri sendiri. Oleh sebab itu jagalah dirimu dari bencana-bencana hari kiamat yang akan menimpamu!

Hai Abu Hurairah! Berbuatlah kebajikan dengan apa yang telah dikaruniakan Tuhan kepadamu. Karena barang siapa yang berlaku jahat (menyalahgunakan apa yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya) maka sesuatu itu akan menghalanginya kelak di atas titian Siratal Mustaqim dengan bergantung kepadanya. Betapa banyaknya orang mukmin yang diseret ke titian Siratal Mustaqim sebagai pembalasan (qishash)!.

Hai Abu Hurairah! Hendaklah setiap mukmin melakukan sholat di waktu tengah malam walaupun sekedar memerah susu kambing (sebentar). Dan barangsiapa yang mengerjakan sholat malam karena mengharapkan ridha Allah SWT niscaya Allah SWT rela kepadanya dan menyampaikan hajat maksudnya di dunia maupun di akhirat. Maka menukaslah Abu Hurairah dengan bertanya; “Ya Rasul Allah” Pada saat-saat malam yang manakah sholat itu lebih afdhol?” “Pada pertengahan malam,” jawab Rasulullah SAW.

Hai Abu Hurairah! Jika engkau mampu menghadap Tuhan dengan punggung yang ringan (tanpa beban) karena tak ada sangkut paut dengan urusan darah kaum muslimin, harta benda mereka dan kehormatan mereka, maka cobalah berbuat demikian, niscaya kelak engkau menjadi awal orang yang dihampiri Tuhan (muqorrobin).

Hai Abu Hurairah! Dan janganlah engkau jadikan seseorang di antara makhluk Allah sebagai perantara dengan Tuhan Al-Khalik, maka kelak Allah menjadikanmu pula sebagai perantara dari bencana api neraka pada hari kiamat kelak.

Hai Abu Hurairah! Apabila disebut-sebut orang neraka jahanam, maka mohonlah kepada Tuhan supaya engkau dijauhkan darinya. Dan hendaklah hati dan jiwamu meratap karenanya dan bulu romamu meremang karenanya, niscaya Allah akan menjauhkanmu darinya.

Hai Abu Hurairah! Apabila engkau rindu kepada Surga, maka mintalah supaya engkau mendapat bagian darinya. Dan hendaklah hatimu lunak-lembut karena merindukannya, dan kedua air matamu menetes dalam keadaan engkau percaya kepada-Nya, niscaya kelak Allah SWT memberikan surga itu kepadamu dan Dia tidak akan menolak permintaanmu.

Hai Abu Hurairah! Jika engkau bermaksud untuk tidak berpisah dengan aku pada hari Kiamat sehingga engkau tetap bersamaku disurga, maka cintailah aku dengan rasa cinta yang sedemikian rupa hingga engkau tidak dapat melupakan aku. Relalah engkau dengan rezeki yang dikaruniakan Tuhan, karena barangsiapa yang meninggalkan dunia itu padahal ia rela dengan pembagian yang telah diberikan Tuhan padanya, maka ia berpulang ke alam baka dengan kerelaan Tuhan pula. Dan barangsiapa yang Tuhan rela kepadanya, maka surgalah tempat ia kembali.

Hai Abu Hurairah! Suruhlah orang berbuat kebaikan dan laranglah ia berbuat yang munkar. Abu Hurairah bertanya: “Bagaimana aku melaksanakan amar makruf dan nahi munkar?” “Beritahukan manusia tentang kebijaksanaan itu dan ajarkanlah kebajikan itu kepada mereka,” jawab Rasulullah.

Dan apabila engkau melihat orang melakukan perbuatan maksiat, durhaka kepada Allah SWT, maka janganlah engkau takut akan cambuk dan pedangnya; janganlah engkau pergi meninggalkan orang itu sebelum engkau berkata kepadanya “Takutlah engkau kepada Allah!”

Hai Abu Hurairah! Pelajarilah Al-Qur’an dan kemudian ajarkanlah pulalah Al-Qur’an itu kepada orang banyak sampai engkau meninggalkan dunia ini, dan senantiasalah engkau berbuat demikian. Jika demikian halmu akan berdatanganlah para malaikat ke kuburmu dan mereka memberi selawat dan memohonkan ampun bagimu sampai hari Kiamat seperti halnya orang-orang yang beriman beramai-ramai pergi haji ke Baitullah ‘Azza wa Jalla.

Hai Abu Hurairah! Temuilah kaum muslimin dengan wajahmu yang cerah dan berjabat tanganlah dengan mereka dengan mengucapkan salam. Jika engkau mampu berbuat demikian dimana saja engkau berada, maka sesungguhnya para malaikat tetap bersamamu selain untuk menjaga keselamatan engkau, mereka juga memohon ampunan untuk engkau. Ketahuilah! Barangsiapa yang meninggalkan dunia ini di bawah permohonan ampun para malaikat, niscaya Allah memberi ampun bagi dosanya.

Hai Abu Hurairah! Jika engkau ingin mendapat nama yang harum di dunia dan akhirat, tahanlah lisanmu dari mempergunjingkan orang. Karena barangsiapa yang tidak mempergunjingkan orang, niscaya Allah menolongnya di dunia dan akhirat.
Adapun pertolongan-Nya di dunia ini ialah, bahwa tidak ada seorangpun yang dapat mengganggunya, melainkan para malaikat membohongkan mereka yang bermaksud tidak baik terhadap dirinya itu. Dan tentang pertolongan Allah di hari akhirat, ialah kemaafan Tuhan dari kejahatan yang telah dilakukannya serta menerima amal kebajikan yang telah dilakukannya selama ini.

Hai Abu Hurairah! Segeralah pagi-pagi beramal pada jalan Allah niscaya Allah menghamparkan rezeki-Nya untuk engkau.
ashura42 is offline Add to ashura42's Reputation Report Post Report Post Multi-Quote This Message

Hai Abu Hurairah! Hubungkanlah kasih sayang antara sesamamu, niscaya rezekimu berdatangan dari jurusan yang tidak terduga. dan pergilah naik haji ke rumah Allah (Baitullah), niscaya Allah mengampuni dosamu walaupun separuh tanah Haram (Mekkah).

Hai Abu Hurairah! Merdekakanlah hamba sahaya, niscaya Allah membebaskan anggota tubuh engkau (dari sentuhan api neraka) dengan tiap-tiap anggotanya, dan engkau akan beroleh derajat yang berlipat ganda.

Hai Abu Hurairah! Kenyangkanlah orang lapar, niscaya engkau beroleh pahala sebanyak kebajikan yang telah dilakukannya, dan kebajikan-kebajikannya setelah ia kenyang; tetapi tidak ada sesuatupun keburukan-keburukan yang dilakukannya akan menimpa engkau.

Hai Abu Hurairah! Janganlah engkau pandang rendah sesuatu perbuatan yang makruf yang engkau kerjakan. dan walaupun engkau menuangkan timbamu yang berisi air ke dalam bejana orang yang kehausan, maka hal itu adalah sesuatu perkara kebajikan, dan kebajikan itu besar maupun kecil ganjarannya adalah surga.

Hai Abu Hurairah! Perintahkanlah keluargamu mengerjakan sholat, karena Allah SWT mendatangkan rezeki kepadamu dari jurusan yang tidak disangka-sangka. dan janganlah ada di rumahmu jalan masuk setan.

Hai Abu Hurairah! Apabila bersin saudaramu sesama muslim, maka tasymit do'akanlah dia.
Untuk itu bagimu telah ditentukan duapuluh pahala kebajikan. Aku (Abu Hurairah0 bertanya; "Demi ayahku, engkau dan ibuku, bagaimana bisa demikian?" Nabi menjawab: "Sesungguhnya dikala engkau mengucapkan padanya: "Yahhimakallah" (semoga Tuhan memberi rahmat kepada engkau) dituliskan untukmu sepuluh kebajikan, dan dikala engkau mengucapkan padanya: "Yahdikallah" (semoga Tuhan memberi petunjuk padamu) maka dituliskan untukmu sepuluh pahala lagi.

Hai Abu Hurairah!Hendaklah engkau minta ampunkan kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, karena mereka semua dapat mendorong safaat bagi engkau kelak, dan engkau akan beroleh pahala seperti pahala yang akan di dapat mereka tanpa kurang sedikitpun juga.

Hai Abu Hurairah! Jika engkau ingin terpandang di sisi Tuhan, terpandang sebagai teman Allah, maka percayalah kepada semua Rasul Allah para Nabi Allah serta semua kitab-Nya.

Hai Abu Hurairah! Jika engkau berharap tubuhmu diharamkan dari sentuhan api neraka, maka bacalah di kala pagi dan petang:

"Tiada Tuhan selain Allah sendiriNya, tiada sekutu bagiNya, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah!

Hai Abu Hurairah! Tidak halal bagimu masuk ke tempat orang yang sedang berada dalam seratul maut sekalipun ia seorang Nabi sehingga ia mengajarkan terlebih dahulu kepada orang itu kalimah syahadah: La ilaha Illallah.

Hai Abu Hurairah! Barangsiapa mengajarkan (mentalkinkan) kepada orang yang sakit dalam sekarat-maut kalimat syahadah : "La ilaaha Illallah wahdahu laa syarikalah", sehingga kalimat itu diucapkan pula oleh si sakit, ia akan memperoleh sekalian kebajikannya. Tetapi apabila si sakit tidak mengucapkan kalimat syahadah itu, maka ia akan memperoleh pahala kebajikan orang yang memerdekakan budak dengan kalimah "Laa ilaaha Illallah" yang telah diucapkannya terhadap si sakit

Kalau boleh saya turut nyumbang dikit maaf kalau sedikit menyimpang
Sebuah Hadits oleh Jalaluddin al-Suyuthi dalam al-Durr Al-Mantsur meriwayatkan kerinduan Rasulullah kepada umatnya yg diubah dalam puisi :

Dini hari di Madinah Al Munawwarah
Kusaksikan para sahabat berkumpul di masjidmu
Angin sahara membekukan kulitku
gigiku gemertak , kakiku berguncang
Tiba-tiba pintu hujrah-mu terbuka
Engkau datang ya Rasul Allh
Kupandang dikau :
Assalamu' alaikum ayyuhan Nabi wa rahmatullah
Assalamu' alaikum ayyuhan Nabi wa rahmatullah
Kudengar salam baersahut-sahutan
Kau tersenyum , ya Rasul Allah
wajahmu bersinar
angin sahara berubah menjadi hangat
Cahayamu menyelusup seluruh daging dan darahku
Dini hari Madinah berubah menjadi siang yang cerah
Kudengar Engkau berkata :
Adakah air pada kalian ?
Kutengok cepat ghribahku
Para sahabat sibuk memperlihatkan kantong kosong
Tidak ada setetes pun air ya Rasul Allah
Kusesali diriku mengapa tak kucari air sebelum tiba di masjidmu
Duhai bahagianya,jika kubasahi wajah dan tanganmu
dengan percikan air dari gharibahku
Kudengar suaramu lirih
Bawakan wadah yg basah
Aku ingin meloncat mempersembahkan gharibahku
Tapi ratusan sahabat berdesakan mendekatimu
Kau ambil gharibah kosong, Kau celupkan jari-jarimu
Subhanallah, kulihat air mengalir dari sela-sela jarimu
Kami berdecak , berebut berwudhu dari pancuran sucimu
Betapa sejuk air itu , ya Rasul Allah
betapa harum air itu , ya Nabi Allah
betapa lezat air itu , Ya habib Allah
Kulihat Ibnu Mas'ud mereguk sepuas-puasnya
Qad qamatish shalah , Qad qamatish Shalah
Duhai bahagianya Shalat di belakangmu
Ayat-ayat Suci mengalir dari suaramu
melimpah memasuki jantung dan pembuluh darahku
Usai shalat kau pandangi kami
Masih dengan senyum yg sejuk itu
Cahayamu, ya Rasul Allah , tak mungkin kulupakan
Ingin kubenamkan setetes diriku dalam samudra dirimu
Ingin kujatuhkan sebutir debuku dalam sahara tak terhinggamu
Kudengar Kau berkata lirih :
Ayyul Khalqi a'jabu ilaikum imanan ?
Siapa Makhluk yang imannya paling mempesona ?
Malaikat , ya Rasul Allah
Bagaimana malaikat tak beriman, Bukankah mereka berada disamping Allah ?
Para Nabi, Ya Rasul Allah
Bagaimana nabi tak beriman, Bukankah kepada mereka turun wahyu Allah ?
Kami, para sahabatmu
Bagaimana kalian tidak beriman, bukankah aku ditengah-tengah kalian ?
Telah kalian saksikan apa yg kalian saksikan.
Kalau begitu, siapakah mereka ya Rasul Allah ?
Langit Madinah bening
Bumi Madinah Hening
Kami Termangu
Siapa gerangan mereka yang imannya paling mempesona ?
Ku tahan Napasku, Kuhentikan jantungku, kudengar sabdamu
Yang paling menakjubkan imannya mereka yang datang sesudahku , beriman kepadaku
Padahal tidak pernah melihatku dan berjumpa denganku
Yang paling mempesona imannya mereka yang tiba setelah aku tiada, yg membenarkanku
tanpa melihatku, Mereka adalah saudaraku.
Bukankah kami ini Saudaramu juga , ya Rasul Allah ?.
Kalian Sahabat-sahabatku
Saudaraku adalah mereka yg tidak pernah berjumpa denganku
Mereka beriman kepada yg ghaib, mendirikan shalat. menginfakkan sebagian rezekinya.
Kami terpaku
Langit Madinah Bening, bumi Madinah hening
kudengar lagi engkau berkata :
Alangkah bahagianya aku memenuhi mereka
Suaramu parau, butir-butir air matamu tergenang
Kau rindukan mereka , ya Rasul Allah
Kau dambakan pertemuan dengan mereka ya Nabi Allah
Assalamu'alaikum ayyuhan Nabi wa rahmatullahi wa barakatuh


Hai Abu Hurairah! Talkinkanlah orang yang akan mati dengan syahadah : "Laa ilaaha illallah Rabbighfirli," makan kalimah itu akan meruntuhkan ratakan segala dosa.

Aku (Abu Hurairah) bertanya: "Ya Rasulullah, Ini adalah untuk orang yang akan mati, maka bagaimanakan terhadap orang yang masih hidup?" Di tentu lebih meruntuh-ratakan lagi dosa itu" jawab Rasulullah.

Hai Abu Hurairah! Jika engkau mampu menurunkan hujan dari langit dengan melakukan sholat dua rokaat (Istisqa), maka engkau akan memperoleh pahala kebajikan-kebajikan sebanyak tetesa hujan yang turun dari langit, dan sebanyak helai daun yang tumbuh akibat hujan itu.

Hai Abu Hurairah! sedekahkanlah air, karena tak seorangpun yang berwudhu' dengannya melainkan engkau memperoleh kebajikan seperti yang diperolehnya sendiri, tanpa kurang sedikit pun juga.

Hai Abu Hurairah! Tahukah engkau bahwa seseorang lelaki diampuni Tuhan dosanya, hanya karena ia telah mananam rumput hijau, kemudian datanglah binatang sehingga rumput itu dimakannya.

Hai Abu Hurairah! Ucapkanlah kepada manusia kata-kata yang baik, niscaya engkau beroleh bahagia pada hari Kiamat.

Hai Abu Hurairah! Jenguklah orang miskin yang kafir maupun muslim! maka jika engkau jenguk orang kafir yang miskin, niscaya Allah SWT memberi rahmat untukmu. Adapun pahalamu jika engkau menjenguk muslim yang miskin, tak dapat saya lukiskan kebaikannya.

Hai Abu Hurairah! Jika engkau berada dalam lingkungan keluarga ayahmy, ibumu atau anakmu, maka tak boleh engkau menyedekahkan hartanya kecuali dengan izinnya.

Hai Abu Hurairah! Tidaklah halal bagimu harta istrimu yang telah engkau berikan padanya, kecuali sesuatu yang diberikannya kepadamu dengan sukarela tanpa engkau minta. Demikian, karena firman Allah yang artinya berbunyi: "Maka jika mereka (istri) itu berbuat baik kepadamu dengan memberikan sesuatu miliknya kepadamu, maka makanlah dengan lezat dan puas." (An-Nisa : 4)

Hai Abu Hurairah! Katakanlah kepada kaum istri, bahwa tidak halal bagi mereka menyedekahkan sesuatu benda yang ada dalam rumah suami mereka, kecuali segala sesuatu yang basah (tidak tahan lama: pisang, pepaya, apel dsb) yang mereka khawatirkan rusak dan busuk bila suaminya tidak ada di rumah.

Hai Abu Hurairah! Ajarkan sunnahku pada manusia, niscaya wajahmu beroleh nur yang terang benderang pada hari kiamat yang girang-gembira melihatmu baik orang-orang yang dahulu maupun orang-orang yang kemudian.

Hai Abu Hurairah! Jadilah engkau muadzin atau Imam! Karena bila engkau angkat suaramu itu naik membumbung tinggi sampai ke Arasy, maka tidak melewati suaramu akan segala sesuatu, melainkan tiap-tiap suara beroleh sepuluh kebaikan. Dan apabila engkau bertindak menjadi imam, engkau akan beroleh pahala sebanyak pahala orang yang sholat menjadi makmum di belakang engkau tanpa dikurangi sedikitpun jua, kecuali jika engkau menjadi imam yang berkhianat. Aku (Abu Hurairah bertanya; "Hai Rasul Allah! Bagaimana imam yang berkhianat itu?" Rasul menjawab; "Apabila engkau mengkhususkan do'a hanya hanya untuk engkau sendiri tanpa menyertakan mereka, maka berarti engkau telah mengkhianati mereka".

Hai Abu Hurairah! Ajarkan anak-anak keluargamu dengan lisanmu agar supaya mereka mengerjakan sholat dan bersuci. tetapi apabila mereka telah sampai berumur sepuluh tahun, maka lecutlah, akan tetapi jangan sampai melebihi tiga

Hai Abu Hurairah! Perhatikanlah nasih Ibnu Sabil (mahasiswa-pelajar, perantau2 yang terlanta hidupnya, pen) maka bawalah ia ke rumahmu atau ke rumah sanak familimu niscaya engkau ditemani malaikat waktu engkau menyebrangi Shiratal Mustaqim.

Hai Abu Hurairah! Temanilah duduk kaum fakir miskin, karena rahmat Allah tidak jauh dari mereka sekejap matapun.

Hai Abu Hurairah! Janganlah engkau sebarkan duri di jalanan yang dilewati kaum muslimin untuk menyakiti mereka. karena barang siapa yang menyakiti kaum muslimin di jalan-jalan yang dilalui mereka, maka ia akan dicaci maki oleh orang islam dan malaikat.

Hai Abu Hurairah! Bila engkau bertemu dengan sesuatu rintangan (lubang) di jalan, maka timbunlah dengan tanah, niscaya Allah menutupi dosamu di hari kiamat.

Hai Abu Hurairah! Apabila engkau membimbing orang buta, peganglah tangan kirinya dengan tangan kanan engkau, dan itu berarti suatu sedekah.

Hai Abu Hurairah! Barangsiapa yang berjalan satu mil dengan menuntun orang buta, maka ia akan beroleh pahala setiap hasta yang dilangkahkannya sampai kelak Allah SWT memperdengarkan kepadanya apa yang menggembirakannya di hari kiamat.

Hai Abu Hurairah! Janganlah engkau turut menuntun orang Yahudi ke Synagog (rumah ibadahnya), jangan pula orang Nasrani ke gerejanya, orang Sabiin ke kuilnya, orang majsi ke rumah api (klenteng)nya, dan orang musyrik ke rumah berhalanya, maka kalau engkau berbuat demikian, niscaya dituliskan Tuhan bagimu kesalahan seperti dosa-dosa mereka sampai ia kembali pulang dari tempat-tempat tersebut.

Hai Abu Hurairah! Bimbinglah para hamba Allah ke masjid-masjid Allah, ke tanah suci dan ziarah ke kuburku, niscaya engkau akan beroleh pahala seperti pahala-pahala yang didapat mereka tanpa kurang sedikitpun.

Hai Abu Hurairah! Sampaikanlah kepada kaum wanita, bahwa mereka tak usah ziarah ke kuburku, tetapi kewajiban mereka adalah melakukan ibadah haji ke Baitullah, yakni apabila ada mahramnya. Dan kalau tidak demikian, maka mereka tak boleh pergi. Aku (Abu Hurairah) bertanya: Ya Rasul Allah, sekalipun wanita itu telah merupakan tunggul pohon (tak ada daya tariknya)?" Ya, sekalipun wanita itu telah merupakan tunggul pohon (khasyafah) yang tidak ada daya tariknya lagi," jawab Rasulullah.

Hai Abu Hurairah! Jika engkau mampu berbuat, bahwa janganlah ada hendakna seorang zalimpun yang dapat berbuat terhadap dirimu, baik dengan tangan maupun dengan lisannya. Aku senang bila engkau dapat berbuat demikian. Silahkan!

Hai Abu Hurairah! Janganlah ada seorang pun diantara para pemimpin (pemerintah)mu kecuali ia orang yang adil sebagaimana engkau sendiri bersikap adil. Tetapi jika engkau telah bersikap adil, padahal tetanggamu tidak, adalah engkau temannya dalam dosa, tetapi tidak menjadi temannya dalam pahala.

Hai Abu Hurairah! Jika engkau mempunyai harta benda yang telah wajib dizakatkan, maka keluarkanlah zakatnya. Maka apabila harta itu ditimpa bencana dan engkau telah mengeluarkan zakatnya satu kali, maka memadailah itu sampai hari kiamat.

Hai Abu Hurairah! Apabila engkau bertemu dengan orang-orang yahudi dan Nasrani, maka janganlah engkau jabat tangannya selagi dalam keadaan berwudhu. Maka jika engkau berbuat demikian ulangilah wudhu'mu kembali.

Bismillahirrahmaanirrahiim

Hai Abu Hurairah! Janganlah engkau panggil seseorang itu dengan kata-kata: yahudi, nasrani, dan majusi, tetapi sebutlah dengan namanya masing-masing, karena demi Allah, engkau berarti telah menghinanya dengan sebutan yang demikian itu. Tetapi sebaliknya juga tidak halal bagimu memuliakannya sedemikian rupa, karena bagi mereka cukup perjanjian dan jaminan, bahwa harta mereka tidak akan diambil kecuali dengan kerelaan hati masing-masing. Janganlah engkau memasuki rumah-rumah mereka kecuali dengan izin mereka, dan jangan engkau berada di tengah-tengah mereka dan anak-anak mereka, dan janganlah dikhianati mereka dalam urusan wanita mereka. demikian ajaranku kepadamu agar kamu mengerti tentang petunjuk agama.

Hai Abu Hurairah! Apabila engkau bersunyi diri berbicara berduaan dengan orang yahudi, nasrani maupun majusi, maka tidak halal bagimu berpisah sebelum engkau mengajaknya ke dalam agama islam.

Hai Abu Hurairah! janganlah sekali-kali engkau bertengkar dengan salah seorang di antara mereka. karena barangkali ia akan mengemukakan kepadamu ayat yang turun dari langit, khawatir engkau akan mendustakannya; atau sebaliknya engkau mengumukakan pula suatu firman Allah, maka dia mendustakan engkau pula. Tidak ada pembicaraanmu yang lebih baik kecuali engkau menyerunya kepada islam. demikianlah yang dimaksud oleh Allah "Debatlah mereka degan cara yang lebih baik" (An Nahl :125) yakni mengajak mereka supaya menganut Islam.

Hai Abu Hurairah! Sholatlah kamu dengan memakai kain yang sama, baik engkau Imam ataupun sebagai makmum, sekalipun kain itu kasar.

Hai Abu Hurairah! Adakah engkau ingin beroleh pahala seperti pahalanya kaum syuhada perang Badar? Cobalah perhatikan seorang muslim yang tidak mempunyai pakaian yang akan di pakainya ke Masjid pada hari Jum'at, maka pinjamilah atau berikanlah kain itu kepadanya.

Hai Abu Hurairah! Inginkah engkau tidak mendengar raungan suara api neraka dan tidak sampai padamu jilatan api neraka itu? Maka bantulah orang-orang yang mengharapkan pertolongan, karena bahaya kebakarankah, kecuriankah, kebanjirankah atau karena keruntuhan rumah.

Hai Abu Hurairah! Selamatkanlah seseorang dari marabahaya dan kesusahan hidup niscaya engkau akan terlepas daripada kedukaan pada hari kiamat.

Hai Abu Hurairah! Berjalanlah kepada orang yang berhutang kepadamu dengan membawa haknya niscaya engkau diirngi malaikat dengan memberi selawat kepadamu.

Hai Abu Hurairah! Barangsiapa yang diketahui Allah, bahwa ia telah berhasrat membayar hutangnnya, niscaya Allah memberi rezekinya dengan tidak terduga, dan Allah mempersiapkannya utuk dapat membayar hutangnya itu selagi ia hidup atau sesudah matinya.

Hai Abu Hurairah! Barangsiapa yang beroleh karunia harta benda yang halal dan ia keluarkan zakatnya, kemudian harta itu diwariskan kepada pewaris-pewaris sepeninggalnya, maka segala sesuatu kebajikan yang diperbuat oleh para pewarisnya itu dengan mempergunakan harta peninggalannya itu, akan diperolehnya pahala sama seperti yang di dapat oleh para pewarisnya dengan tidak dikurangi sedikitpun.

Hai Abu Hurairah! Barangsiapa yang menuduh (memfitnah) orang mukmin yang sudah beristri maupun bersuami melakukan perzinahan, dia akan dikurung pada hari kiamat dalam sebuah lembah "khabal" sampai dia mampu menunjukkan bukti dari apa yang diucapkannya itu. Aku (Abu Hurairah) bertanya: "Ya Rasul Allah apakah lembah "Khabal" itu?" Beliau menjawab: "Sebuah lembah yang terletak dalam neraka jahannam dimana mengalir nanah dan apa-apa yang keluar dari rongga mereka".

Tawasul Para Wali-Wali Allah

Alfattihah ila ruhi Sayyidina Wahabibina Wasyafi’ina Rosulillah Muhammad bin Abdillah S.A.W wa alihi wa as habihi wa azwajihi wa zuriatihi wa ahlul baiti aj’main,Fi masyariqil ardhi ila magribiha,

Watsuma ila ruhi sadatina hababah Khodijatul kubro wa sadatina hababah aisyahtu ridho wa hababah siti fatimahtu zahro wa sayyidinal hasan wa sayyidinal husein,

Tsuma ila had’roti sadatina abi bakrin wa’umaro wa’ustmana wa’aliyin karomallahu wajha wa rodhiallahu ta’ala anhum aj’main,

watsuma ila ruhi sayyidina imam ahmad al-badawi wal imam ahmad rifa’i wal imam ahmad al-buni wal imam hanafi wal imam ghozali’ wal imam maliki’ wal imam syafe’I wal imam hambali,

watsuma ila ruhi sayyidinal imam muhajir illallah ahmad bin isa wa sayyidinal faqihil muqaddam Muhammad bin ali ba’alawi wa ussulihim wa furuihim wajami’I sadatina ali ba’alawi wa zawil hukuki alaihim ajma’in,

wa tsuma ila ruhi sayyidina kutbirobni wahai kumuroni tuan syekh abdul qodir al-jaelani’wal sayyidinal al imam abu hamid bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al ghozali

wa tsuma ila ruhi syekh al kabir al habib abdurahman assegaf bin Muhammad maula dawileh’wal habib umar al muhdor wal habib ali bin abu bakar assyakran’wal habib Abdulloh bin abu bakar al alaydrus al a’denni wa ussulihim wa furuihim

wa tsuma ila ruhi wal habib Muhammad bin hasan jamalullail salim manta innat wa akhihi agil bin salim’

wa tsuma ila ruhi sayyidina kutbil anfas sohibul ratib al habib umar bin abdurahman al attas wa syekh ali bin abdillahi baros

wa tsuma ila ruhi sayyidina kutbil irsyad wa gautsilibad’sohibul ratib al habib Abdullah bin alwi al haddad wal habib ali bin Muhammad bin husein al habsyi sohibul maulid simtud duror wal habib Abdullah bin husein bin thohir’wal habib abu bakar bin Abdullah al attas’wal habib ahmad bin zein al habsyi’wal habib hasan bin sholeh al bahar’wal habib Abdullah bin umar assyatiri’wal habib ali ruhi sohibul hadroh’wal maqam al imam al qutub al habib husein bin abu bakar al idrus (luar batang)

wa tsuma ila ruhi al imam al qutub sayyidina kutbil anfas tsani al habib Abdullah bin muhsin al attas (kramat empang bogor) wal habib muhsin bin Abdullah al attas (kramat empang bogor) wal habib zein bin Abdullah al attas’wal habib alwi bin Muhammad bin thohir al habib Muhammad bin ahmad al muhdor wal habib sholeh bin Muhammad al muhdor’wal habib alwi bin Muhammad al muhdor wal habib Muhammad bin idrus al habsyi’wal habib Muhammad bin husein al idrus’wal habib sholeh bin muhsin al hamid (tanggul) wal habib ja’far bin syeikhon assegaf wal habib alwi bin ali bin Muhammad bin husein al habsyi’wal ahmad bin tholib al attas

wa tsuma ila ruhi al imam al habr al qutub al habib abdul qodir ibni ahmad bilfaqih’wal imam al habr al qutub al musnit al habib prof.Dr Abdullah bin abdul qodir bilfagih’wal habib ahmad bin Abdullah bilfagih’wal habib alwi bin Muhammad bin syihab’wal hamid’wal habib abu bakar bin umar bin yahya’wal habib ahmad bin muhsin al haddar’wal habib idrus bin salim al jufri’wal habib Abdullah bin abdurahman al attas’wal habib Muhammad bin thohir’wal habib ahmad bin Abdullah assegaf wa usulihim wa furuihim wa tsuma ila ruhi al attas’wal habib muhsin bin Muhammad al attas’wa tsuma ila ruhi assayyid al walid al habib salim bin ahmad bin jindan’wal habib ali bin husein al attas’wal habib Muhammad bin ahmad al haddad’wal habib umar bin hud al attas wa usulihim wa furuihim wa tsuma ila ruhi al ‘alamah al’arif billah ad da’I ilallah al habib ali bin abdurahman al habsyi’(kwitang) wal habib abdurahman bin Abdullah al habsyi’

wal tsuma ila ruhi sohibul wilayah habib ahmad bin alwi al haddad’(kuncung kalibata) wal habib Abdullah bin ja’far al haddad (kalibata) wal habib salim bin thoha al haddad wal habib Abdullah bin husein al attas wal habib ahmad bin ali al bahasyiri wa usulihim wa furuihim wa tsuma ila ruhi sayyidil walid al-habib ja’far bin umar bin ja’far assegaf wa usulihim wa furuihim wa tsuma ila ruhi al-habib anis al-habsyi’(solo) wa usulihim wa furuihim wa tsuma ila ruhi sayyidil walid al habib abdurahman bin ahmad bin abdul qadir assegaf (bukit duri) wa tsuma ila ruhi abdullah,tsuma ilruhi abu bakar,

tsuma ila ruhi Muhammad,
tsuma ila ruhi musthafa,
tsuma ila ruhi aluya,
tsuma illa ruhi fathimah.

khususon sohibul wilayah mauturobi arwahana wa ansadana assayid al walid al habib hasan bin ja’far bin umar bin ja’far assegaf wal habib Abdullah bin ja’far bin umar bin ja’far assegaf wal habib musthofa bin ja’far bin umar bin ja’far assegaf wal habib qasym sami bin ja’far bin umar bin ja’far assegaf wa usulihim wa furuihim wa zawil hukuki alaihim ajma’in biannallohi yu’li darojatihim fil jannah wayanfa’una bi asro rihim wa anwarihim wa ulumihim wa barokatihim wanafatihim fi dinni wa dunya wal akhiroh wayaj’aluna min hiznihim wayar zakuna mahabah tahum wayatawafana’ala milatihim wayah syuruna fi zumrotihim fi khoirin wa lutfin wal afiyah wassalamah waila hadrotin Nabi sayyidina Muhammad ibni abdillah S.A.W bi siril fatihah………

Semua Tentang Syech Siti Jenar serta Ajaran²nya

Mengenal Nama Syekh Siti Jenar

Syekh Siti Jenar (829-923 H/1348-1439 C/1426-1517 M), memiliki banyak nama : San Ali (nama kecil pemberian orangtua angkatnya, bukan Hasan Ali Anshar seperti banyak ditulis orang); Syekh ‘Abdul Jalil (nama yg diperoleh di Malaka, setelah menjadi ulama penyebar Islam di sana); Syekh Jabaranta (nama yg dikenal di Palembang, Sumatera dan daratan Malaka); Prabu Satmata (Gusti yg nampak oleh mata; nama yg muncul dari keadaan kasyf atau mabuk spiritual; juga nama yg diperkenalkan kepada murid dan pengikutnya); Syekh Lemah Abang atau Lemah Bang (gelar yg diberikan masyarakat Lemah Abang, suatu komunitas dan kampung model yg dipelopori Syekh Siti Jenar; melawan hegemoni kerajaan. Wajar jika orang Cirebon tidak mengenal nama Syekh Siti Jenar, sebab di Cirebon nama yg populer adalah Syekh Lemah Abang); Syekh Siti Jenar (nama filosofis yg mengambarkan ajarannya tentang sangkan-paran, bahwa manusia secara biologis hanya diciptakan dari sekedar tanah merah dan selebihnya adalah roh Allah; juga nama yg dilekatkan oleh Sunan Bonang ketika memperkenalkannya kepada Dewan Wali, pada kehadirannya di Jawa Tengah/Demak; juga nama Babad Cirebon); Syekh Nurjati atau Pangran Panjunan atau Sunan Sasmita (nama dalam Babad Cirebon, S.Z. Hadisutjipto); Syekh Siti Bang, serta Syekh Siti Brit; Syekh Siti Luhung (nama-nama yg diberikan masyarakat Jawa Tengahan); Sunan Kajenar (dalam sastra Islam-Jawa versi Surakarta baru, era R.Ng. Ranggawarsita [1802-1873]); Syekh Wali Lanang Sejati; Syekh Jati Mulya; dan Syekh Sunyata Jatimurti Susuhunan ing Lemah Abang.

Siti Jenar lebih menunjukkan sebagai simbolisme ajaran utama Syekh Siti Jenar yakni ilmu kasampurnan, ilmu sangkan-paran ing dumadi, asal muasal kejadian manusia, secara biologis diciptakan dari tanah merah saja yg berfungsi sebagai wadah (tempat) persemayaman roh selama di dunia ini. Sehingga jasad manusia tidak kekal akan membusuk kembali ketanah. Selebihnya adalah roh Allah, yg setelah kemusnaan raganya akan menyatu kembali dengan keabadian. Ia di sebut manungsa sebagai bentuk “manunggaling rasa” (menyatu rasa ke dalam Tuhan).

Dan karena surga serta neraka itu adalah untuk derajad fisik maka keberadaan surga dan neraka adalah di dunia ini, sesuai pernyataan populer bahwa dunia adalah penjara bagi orang mukmin. Menurut Syekh Siti Jenar, dunia adalah neraka bagi orang yg menyatu-padu dgn Tuhan. Setelah meninggal ia terbebas dari belenggu wadag-nya dan bebas bersatu dgn Tuhan. Di dunia manunggalnya hamba dgn Tuhan sering terhalang oleh badan biologis yg disertai nafsu-nafsunya. Itulah inti makna nama Syekh Siti Jenar.
Asal Usul Syekh Siti Jenar

Syekh Siti Jenar lahir sekitar tahun 829 H/1348 C/1426 M (Serat She Siti Jenar Ki Sasrawijaya; Atja, Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi Keradjan Tjirebon), Ikatan Karyawan Museum, Jakarta, 1972; P.S. Sulendraningrat, Purwaka Tjaruban Nagari, Bhatara, Jakarta, 1972; H. Boedenani, Sejarah Sriwijaya, Terate, Bandung, 1976; Agus Sunyoto, Suluk Abdul Jalil Perjalanan Rohani Syaikh Syekh Siti Jenar dan Sang Pembaharu, LkiS, yogyakarta, 2003-2004; Sartono Kartodirjo dkk, [i]Sejarah Nasional Indonesia, Depdikbud, Jakarta, 1976; Babad Banten; Olthof, W.L., Babad Tanah Djawi. In Proza Javaansche Geschiedenis, ‘s-Gravenhage, M.Nijhoff, 1941; raffles, Th.S., The History of Java, 2 vol, 1817), dilingkungan Pakuwuan Caruban, pusat kota Caruban larang waktu itu, yg sekarang lebih dikenal sebagai Astana japura, sebelah tenggara Cirebon. Suatu lingkungan yg multi-etnis, multi-bahasa dan sebagai titik temu kebudayaan serta peradaban berbagai suku.

Selama ini, silsilah Syekh Siti Jenar masih sangat kabur. Kekurangjelasan asal-usul ini juga sama dgn kegelapan tahun kehidupan Syekh Siti Jenar sebagai manusia sejarah.
Pengaburan tentang silsilah, keluarga dan ajaran Beliau yg dilakukan oleh penguasa muslim pada abad ke-16 hingga akhir abad ke-17. Penguasa merasa perlu untuk “mengubur” segala yg berbau Syekh Siti Jenar akibat popularitasnya di masyarakat yg mengalahkan dewan ulama serta ajaran resmi yg diakui Kerajaan Islam waktu itu. Hal ini kemudian menjadi latar belakang munculnya kisah bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari cacing.

Dalam sebuah naskah klasik, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas,
“Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia berdarah kecil saja (rakyat jelata), bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….

Jadi Syekh Siti Jenar adalah manusia lumrah hanya memang ia walau berasal dari kalangan bangsawan setelah kembali ke Jawa menempuh hidup sebagai petani, yg saat itu, dipandang sebagai rakyat kecil oleh struktur budaya Jawa, disamping sebagai wali penyebar Islam di Tanah Jawa.
Syekh Siti Jenar yg memiliki nama kecil San Ali dan kemudian dikenal sebagai Syekh ‘Abdul Jalil adalah putra seorang ulama asal Malaka, Syekh Datuk Shaleh bin Syekh ‘Isa ‘Alawi bin Ahmadsyah Jamaludin Husain bin Syekh ‘Abdullah Khannuddin bin Syekh Sayid ‘Abdul Malikal-Qazam. Maulana ‘Abdullah Khannuddin adalah putra Syekh ‘Abdul Malik atau Asamat Khan. Nama terakhir ini adalah seorang Syekh kalangan ‘Alawi kesohor di Ahmadabad, India, yg berasal dari Handramaut. Qazam adalah sebuah distrik berdekatan dgn kota Tarim di Hadramaut.

Syekh ‘Abdul Malik adalah putra Syekh ‘Alawi, salah satu keluarga utama keturunan ulama terkenal Syekh ‘Isa al-Muhajir al-Bashari al-‘Alawi, yg semua keturunannya bertebaran ke berbagai pelosok dunia, menyiarkan agama Islam. Syekh ‘Abdul Malik adalah penyebar agama Islam yg bersama keluarganya pindah dari Tarim ke India. Jika diurut keatas, silsilah Syekh Siti Jenar berpuncak pada Sayidina Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah. Dari silsilah yg ada, diketahui pula bahwa ada dua kakek buyutnya yg menjadi mursyid thariqah Syathariyah di Gujarat yg sangat dihormati, yakni Syekh Abdullah Khannuddin dan Syekh Ahmadsyah Jalaluddin. Ahmadsyah Jalaluddin setelah dewasa pindah ke Kamboja dan menjadi penyebar agama Islam di sana.
Adapun Syekh Maulana ‘sa atau Syekh Datuk ‘Isa putra Syekh Ahmadsyah kemudian bermukim di Malaka. Syekh Maulana ‘Isa memiliki dua orang putra, yaitu Syekh Datuk Ahamad dan Syekh Datuk Shaleh. Ayah Syekh Siti Jenar adalah Syekh Datuk Shaleh adalah ulama sunni asal Malaka yg kemudian menetap di Cirebon karena ancaman politik di Kesultanan Malaka yg sedang dilanda kemelut kekuasaan pada akhir tahun 1424 M, masa transisi kekuasaan Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sumber-sumber Malaka dan Palembang menyebut nama Syekh Siti Jenar dgn sebutan Syekh Jabaranta dan Syekh ‘Abdul Jalil.

Pada akhir tahun 1425, Syekh Datuk Shaleh beserta istrinya sampai di Cirebon dan saat itu, Syekh Siti Jenar masih berada dalam kandungan ibunya 3 bulan. Di Tanah Caruban ini, sambil berdagang Syekh Datuk Shaleh memperkuat penyebaran Islam yg sudah beberapa lama tersiar di seantero bumi Caruban, besama-sama dgn ulama kenamaan Syekh Datuk Kahfi, putra Syehk Datuk Ahmad. Namun, baru dua bulan di Caruban, pada tahun awal tahun 1426, Syekh Datuk Shaleh wafat.
Sejak itulah San Ali atau Syekh Siti Jenar kecil diasuh oleh Ki Danusela serta penasihatnya, Ki Samadullah atau Pangeran Walangsungsang yg sedang nyantri di Cirebon, dibawah asuhan Syekh datuk Kahfi.

Jadi walaupun San Ali adalah keturunan ulama Malaka, dan lebih jauh lagi keturunan Arab, namun sejak kecil lingkungan hidupnya adalah kultur Cirebon yg saat itu menjadi sebuah kota multikultur, heterogen dan sebagai basis antarlintas perdagangan dunia waktu itu.

Saat itu Cirebon dgn Padepokan Giri Amparan Jatinya yg diasuh oleh seorang ulama asal Makkah dan Malaka, Syekh Datuk Kahfi, telah mampu menjadi salah satu pusat pengajaran Islam, dalam bidang fiqih dan ilmu ‘alat, serta tasawuf. Sampai usia 20 tahun, San Ali mempelajari berbagai bidang agama Islam dgn sepenuh hati, disertai dgn pendidikan otodidak bidang spiritual.


Padepokan Giri Amparan Jati

Setelah diasuh oleh Ki Danusela samapai usia 5 tahun, pada sekitar tahun 1431 M, Syekh Siti Jenar kecil (San Ali) diserahkan kepada Syekh Datuk Kahfi, pengasuh Pedepokan Giri Amparan Jati, agar dididik agama Islam yg berpusat di Cirebon oleh Kerajaan Sunda di sebut sebagai musu(h) alit [musuh halus]
Di Padepokan Giri Amparan Jati ini, San Ali menyelesaikan berbagai pelajaran keagamaan, terutama nahwu, sharaf, balaghah, ilmu tafsir, musthalah hadist, ushul fiqih dan manthiq. Ia menjadi santri generasi kedua. Sedang yg akan menjadi santri generasi ketiga adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Syarif Hidayatullah baru datang ke Cirebon, bersamaan dgn pulangnya Syekh Siti Jenar dari perantauannya di Timur Tengah sekitar tahun 1463, dalam status sebagai siswa Padepokan Giri Amparan Jati, dgn usia sekitar 17-an tahun.
Pada tahun 1446 M, setelah 15 tahun penuh menimba ilmu di Padepokan Amparan Jati, ia bertekad untuk keluar pondok dan mulai berniat untuk mendalami kerohanian (sufi). Sebagai titik pijaknya, ia bertekad untuk mencari “sangkan-paran” dirinya.
Tujuan pertmanya adalah Pajajaran yg dipenuhi oleh para pertapa dan ahli hikmah Hindu-Budha. Di Pajajaran, Syekh Siti Jenar mempelajari kitab Catur Viphala warisan Prabu Kertawijaya Majapahit. Inti dari kitab Catur Viphala ini mencakup empat pokok laku utama.

Pertama, nihsprha, adalah suatu keadaan di mana tidak adal lagi sesuatu yg ingin dicapai manusia. Kedua, nirhana, yaitu seseorang tidak lagi merasakan memiliki badan dan karenanya tidak ada lagi tujuan. Ketiga, niskala adalah proses rohani tinggi, “bersatu” dan melebur (fana’) dgn Dia Yang Hampa, Dia Yang Tak Terbayangkan, Tak Terpikirkan, Tak Terbandingkan. Sehingga dalam kondisi (hal) ini, “aku” menyatu dgn “Aku”. Dan keempat, sebagai kesudahan dari niskala adalah nirasraya, suatu keadaan jiwa yg meninggalkan niskala dan melebur ke Parama-Laukika (fana’ fi al-fana’), yakni dimensi tertinggi yg bebas dari segala bentuk keadaan, tak mempunyai ciri-ciri dan mengatasi “Aku”.

Dari Pajajaran San Ali melanjutkan pengembaraannya menuju Palembang, menemui Aria Damar, seorang adipati, sekaligus pengamal sufi-kebatinan, santri Maulana Ibrahim Samarkandi. Pada masa tuanya, Aria Damar bermukim di tepi sungai Ogan, Kampung Pedamaran.

Diperkirakan Syekh Siti Jenar berguru kepada Aria Damar antara tahun 1448-1450 M. bersama Aria Abdillah ini, San Ali mempelajari pengetahuan tentang hakikat ketunggalan alam semesta yg dijabarkan dari konsep “nurun ‘ala nur” (cahaya Maha Cahaya), atau yg kemudian dikenal sebagai kosmologi emanasi.
Dari Palembang, San Ali melanjutkan perjalanan ke Malaka dan banyak bergaul dgn para bangsawan suku Tamil maupun Malayu. Dari hubungan baiknya itu, membawa San Ali untuk memasuki dunia bisnis dgn menjadi saudagar emas dan barang kelontong. Pergaulan di dunia bisnis tsb dimanfaatkan oleh San Ali untuk mempelajari berbagai karakter nafsu manusia, sekaligus untuk menguji laku zuhudnya ditengah gelimang harta. Selain menjadi saudagar, Syekh Siti jenar juga menyiarkan agama Islam yg oleh masyarakat setempat diberi gelar Syekh jabaranta. Di Malaka ini pula, ia bertemu dgn Datuk Musa, putra Syekh Datuk Ahmad. Dari uwaknya ini, Syekh Datuk Ahmad, San Ali dianugerahi nama keluarga dan nama ke-ulama-an Syekh Datuk ‘Abdul Jalil.

Dari perenungannya mengenai dunia nafsu manusia, hal ini membawa Syekh Siti Jenar menuai keberhasilan menaklukkan tujuh hijab, yg menjadi penghalang utama pendakian rohani seorang salik (pencari kebenaran). Tujuh hijab itu adalah lembah kasal (kemalasan naluri dan rohani manusia); jurang futur (nafsu menelan makhluk/orang lain); gurun malal (sikap mudah berputus asa dalam menempuh jalan rohani); gurun riya’ (bangga rohani); rimba sum’ah (pamer rohani); samudera ‘ujub (kesombongan intelektual dan kesombongan ragawi); dan benteng hajbun (penghalang akal dan nurani).


Pencerahan Rohani di Baghdad

Setelah mengetahui bahwa dirinya merupakan salah satu dari keluarga besar ahlul bait (keturunan Rasulullah), Syekh Siti Jenar semakin memiliki keinginan kuat segera pergi ke Timur Tengah terutama pusat kota suci Makkah.

Dalam perjalanan ini, dari pembicaraan mengenai hakikat sufi bersama ulama Malaka asal Baghdad Ahmad al-Mubasyarah al-Tawalud di sepanjang perjalanan. Syekh Siti Jenar mampu menyimpan satu perbendaharaan baru, bagi perjalanan rohaninya yaitu “ke-Esaan af’al Allah”, yakni kesadaran bahwa setiap gerak dan segala peristiwa yg tergelar di alam semesta ini, baik yg terlihat maupun yg tidak terlihat pada hakikatnya adalah af’al Allah. Ini menambah semangatnya untuk mengetahui dan merasakan langsung bagaimana af’al Allah itu optimal bekerja dalam dirinya.

Inilah pangkal pandangan yg dikemudian hari memunculkan tuduhan dari Dewan Wali, bahwa Syekh Siti Jenar menganut paham Jabariyah. Padahal bukan itu pemahaman yg dialami dan dirasakan Syekh Siti Jenar. Bukan pada dimensi perbuatan alam atau manusianya sebagai tolak titik pandang akan tetapi justru perbuatan Allah melalui iradah dan quradah-NYA yg bekerja melalui diri manusia, sebagai khalifah-NYA di alam lahir. Ia juga sampai pada suatu kesadaran bahwa semua yg nampak ada dan memiliki nama, pada hakikatnya hanya memiliki satu sumber nama, yakni Dia Yang Wujud dari segala yg maujud.

Sesampainya di Baghdad, ia menumpang di rumah keluarga besar Ahmad al-Tawalud. Disinilah cakrawala pengetahuan sufinya diasah tajam. Sebab di keluarga al-Tawalud tersedia banyak kitab-kitab ma’rifat dari para sufi kenamaan. Semua kitab itu adalah peninggalan kakek al-Tawalud, Syekh ‘Abdul Mubdi’ al-Baghdadi. Di Irak ini pula, Syekh Siti Jenar bersentuhan dgn paham Syi’ah Ja’fariyyah, yg di kenal sebagai madzhab ahl al-bayt.

Syekh Siti Jenar membaca dan mempelajari dgn Baik tradisi sufi dari al-Thawasinnya al-Hallaj (858-922), al-Bushtamii (w.874), Kitab al-Shidq-nya al-Kharaj (w.899), Kitab al-Ta’aruf al-Kalabadzi (w.995), Risalah-nya al-Qusyairi (w.1074), futuhat al-Makkiyah dan Fushush al-Hikam-nya Ibnu ‘Arabi (1165-1240), Ihya’ Ulum al-Din dan kitab-kitab tasawuf al-Ghazali (w.1111), dan al-Jili (w.1428). secara kebetulan periode al-jili meninggal, Syekh Siti Jenar sudah berusia dua tahun. Sehingga saat itu pemikiran-permikiran al-Jili, merupakan hal yg masih sangat baru bagi komunitas Islam Indonesia.

Dan sebenarnya Syekh Siti Jenar-lah yg pertama kali mengusung gagasan al-Hallaj dan terutama al-Jili ke Jawa. Sementara itu para wali anggota Dewan Wali menyebarluaskan ajaran Islam syar’i madzhabi yg ketat. Sebagian memang mengajarkan tasawuf, namun tasawuf tarekati, yg kebanyakkan beralur pada paham Imam Ghazali. Sayangnya, Syekh Siti Jenar tidak banyak menuliskan ajaran-ajarannya karena kesibukannya menyebarkan gagasan melalui lisan ke berbagai pelosok Tanah Jawa. Dalam catatan sastra suluk Jawa hanya ada 3 kitab karya Syekh Siti Jenar; Talmisan, Musakhaf (al-Mukasysyaf) dan Balal Mubarak. Masyarakat yg dibangunnya nanti dikenal sebagai komunitas Lemah Abang.

Dari sekian banyak kitab sufi yg dibaca dan dipahaminya, yg paling berkesan pada Syekh Siti Jenar adalah kitab Haqiqat al-Haqa’iq, al-Manazil al-Alahiyah dan al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat al-Awakhiri wa al-Awamil (Manusia Sempurna dalam Pengetahuan tenatang sesuatu yg pertama dan terakhir). Ketiga kitab tersebut, semuanya adalah puncak dari ulama sufi Syekh ‘Abdul Karim al-Jili.

Terutama kitab al-Insan al-Kamil, Syekh Siti Jenar kelak sekembalinya ke Jawa menyebarkan ajaran dan pandangan mengenai ilmu sangkan-paran sebagai titik pangkal paham kemanuggalannya. Konsep-konsep pamor, jumbuh dan manunggal dalam teologi-sufi Syekh Siti Jenar dipengaruhi oleh paham-paham puncak mistik al-Hallaj dan al-Jili, disamping itu karena proses pencarian spiritualnya yg memiliki ujung pemahaman yg mirip dgn secara praktis/’amali-al-Hallaj; dan secara filosofis mirip dgn al-Jili dan Ibnu ‘Arabi.

Syekh Siti Jenar menilai bahwa ungkapan-ungkapan yg digunakan al-Jili sangat sederhana, lugas, gampang dipahami namun tetap mendalam. Yg terpenting, memiliki banyak kemiripan dgn pengalaman rohani yg sudah dilewatkannya, serta yg akan ditempuhnya. Pada akhirnya nanti, sekembalinya ke Tanah Jawa, pengaruh ketiga kitab itu akan nampak nyata, dalam berbagai ungkapan mistik, ajaran serta khotbah-khotbahnya, yg banyak memunculkan guncangan-guncangan keagamaan dan politik di Jawa.

Syekh Siti Jenar banyak meluangkan waktu mengikuti dan mendengarkan konser-konser musik sufi yg digelar diberbagai sama’ khana. Sama’ khana adalah rumah-rumah tempat para sufi mendengarkan musik spiritual dan membiarkan dirinya hanyut dalam ekstase (wajd). Sama’ khana mulai bertumbuhan di Baghdad sejak abad ke-9 (Schimmel; 1986, hlm. 185). Pada masa itu grup musik sufi yg terkenal adalah al-Qawwal dgn penyanyi sufinya ‘Abdul Warid al-Wajd.

Berbagai pengalaman spiritual dilaluinya di Baghdad sampai pada tingkatan fawa’id (memancarnya potensi pemahaman roh karena hijab yg menyelubunginya telah tersingkap. Dgn ini seseorang akan menjadi berbeda dgn umumnya manusia); dan lawami’ (mengejawantahnya cahaya rohani akibat tersingkapnya fawa’id), tajaliyat melalui Roh al-haqq dan zawaid (terlimpahnya cahaya Ilahi ke dalam kalbu yg membuat seluruh rohaninya tercerahkan). Ia mengalami berbagai kasyf dan berbagai penyingkapan hijab dari nafsu-nafsunya. Disinilah Syekh Siti Jenar mendapatkan kenyataan memadukan pengalaman sufi dari kitab-kitab al-Hallaj, Ibnu ‘Arabi dan al-Jili.

Bahkan setiap kali ia melantunkan dzikir dikedalaman lubuk hatinya dgn sendirinya ia merasakan denting dzikir dan menangkap suara dzikir yg berbunyi aneh, Subhani, alhamdu li, la ilaha illa ana wa ana al-akbar, fa’budni (mahasuci aku, segala puji untukku, tiada tuhan selain aku, maha besar aku, sembahlah aku). Walaupun telinganya mendengarkan orang di sekitarnya membaca dzikir Subhana Allah, al-hamduli Allahi, la ilaha illa Allah, Allahu Akbar, fa’buduhu, namun suara yg di dengar lubuk hatinya adalah dzikir nafsi, sebagai cerminan hasil man ‘arafa bafsahu faqad ‘arafa Rabbahu tersebut. Sampai di sini, Syekh Siti Jenar semakin memahami makna hadist Rasulullah “al-Insan sirri wa ana sirruhu” (Manusia adalah Rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya).

Sebenarnya inti ajaran Syekh Siti Jenar sama dgn ajaran sufi ‘Abdul Qadir al-Jilani (w.1165), Ibnu ‘Arabi (560/1165-638-1240), Ma’ruf al-Karkhi, dan al-Jili. Hanya saja ketiga tokoh tsb mengalami nasib yg baik dalam artian, ajarannya tidak dipolitisasi, sehingga dalam kehidupannya di dunia tidak pernah mengalami intimidasi dan kekerasan sebagai korban politik dan menemui akhir hayat secara biasa.


Ingsun, Allah dan Kemanunggalan (Syekh Siti Jenar)

1.“Sabda sukma, adhep idhep Allah, kang anembah Allah, kang sinembah
Allah, kang murba amisesa.”
Pernyataan Syekh Siti Jenar diatas secara garis besarnya adalah: “Pernyataan roh yg bertemu-hadapan dgn Allah, yg menyembah Allah, yg disembah Allah, yg meliputi segala sesuatu.”

Ini adalah salah satu sumber pengetahuan ajaran Syekh Siti Jenar yg maksudnya adalah sukma (roh di kedalaman jiwa) sebagai pusat kalam (pembicaraan dan ajaran). Hal itu diakibatkan karena di kedalaman roh batin manusia tersedia cermin yg disebut mir’ah al-haya’ (cermin yg memalukan). Bagi orang yg sudah bisa mengendalikan hawa nafsunya serta mencapai fana’ cermin tersebut akan muncul, yg menampakkan kediriannya dengan segala perbuatan tercelanya. Jika ini telah terbuka maka tirai-tirai Rohani juga akan tersingkap, sehingga kesejatian dirinya beradu-adu (adhep idhep), “aku ini kau, tapi kau aku”.
Maka jadilah dia yg menyembah sekaligus yg disembah, sehingga dirinya sebagai kawula-Gusti memiliki wewenang murba amisesa, memberi keputusan apapun tentang dirinya, menyatu iradah dan kodrat kawula-Gusti.

2. “Hidup itu bersifat baru dan dilengkapi dengan pancaindera. Pancaindera ini merupakan barang pinjaman, yg jika sudah diminta oleh yg empunya, akan menjadi tanah dan membusuk, hancur lebur bersifat najis. Oleh karena itu pancaindera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup. Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari pancaindera, tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur dan seringkali tidak jujur. Akal itu pula yg siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. Dengki dapat pula menuju perbuatan jahat, menimbulkan kesombongan, untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga menodai nama dan citranya. Kalau sudah sampai sedemikian jauhnya, baru orang menyesalkan perbuatannya.”

Menurut Syekh Siti Jenar, baik pancaindera maupun perangkat akal tidak dapat dijadikan pegangan dan pedoman hidup. Sebab semua itu bersifat baru, bukan azali. Satu-satunya yg bisa dijadikan gondhelan dan gandhulan hanyalah Zat Wajibul Maulanan, Zat Yang Maha Melindungi. Pancaindera adalah pintu nafsu dan akal adalah pintu bagi ego. Semuanya harus ditundukkan di bawah Zat Yang Wajib memimpin.
Karena hanya Dialah yg menunjukkan semua budi baik. Jadi pancaindera harus dibimbing oleh budi dan budi dipimpin oleh Sang Penguasa Budi atau Yang Maha Budi. Sedangkan Yang Maha Budi itu tidak terikat dalam jeratan dan jebakan nama tertentu. Sebab nama bukanlah hakikat. Nama itu bisa Allah, Hyang Widi, Hyang Manon, Sang Wajibul Maulana dan sebagainya. Semua itu produk akal, sehingga nama tidak perlu disembah. Jebakan nama dalam syari’at justru malah merendahkan nama-NYA.

3.“Apakah tidak tahu bahwa penampilan bentuk daging, urat, tulang, sunsum, bisa rusak dan bagaimana cara Anda memperbaikinya? Biarpun bersembahyang seribu kali setiap harinya akhirnya mati juga. Meskipun badan Anda, Anda tutupi akhirnya menjadi debu juga. Tetapi jika penampilan bentuknya seperti Tuhan, Apakah para Wali dapat membawa Pulang dagingnya, saya rasa tidak dapat. Alam semesta ini baru. Tuhan tidak akan membentuk dunia ini dua kali dan juga tidak akan membuat tatanan batu, dalilnya layabtakiru hilamuhdil yg artinya tidak membuat sesuatu wujud lagi tentang terjadinya alam semesta sesudah dia membuat dunia.”

Dari pernyataan itu nampak Syekh Siti Jenar memandang alam makrokosmos sama dengan mikrokosmos (manusia). Kedua hal tersebut merupakan barang baru ciptaan Tuhan yg sama-sama akan mengalami kerusakan atau tidak kekal.
Pada sisi lain, pernyataan Syekh Siti Jenar tsb mempunyai muatan makna pernyataan sufistik, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia pasti mengenal Tuhannya.” Sebab bagi Syekh Siti Jenar manusia yg utuh dalam jiwa raganya merupakan wadag bagi penyanda, termasuk penyanda alam semesta. Itulah sebabnya pengelolaan alam semesta menjadi tanggungjawab manusia.
Maka mikrokosmos manusia, tidak lain adalah Blueprint dan gambaran adanya jagat besar termasuk semesta.
Baginya Manusia terdiri dari jiwa dan raga yg intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan (Sang Pribadi). Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yg dilengkapi pancaindera, berbagai organ tubuh seperti daging, otot, darah dan tulang. Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yg suatu saat setelah manusia terlepas dari pengalaman kematian di dunia ini, akan kembali berubah menjadi tanah.
Sedangkan rohnya yg menjadi tajalli Ilahi, manunggal ke dalam keabadian dengan Allah.

4. “Segala sesuatu yg terjadi di alam semesta ini pada hakikatnya adalah af’al (perbuatan) Allah. Berbagai hal yg dinilai baik maupun buruk pada hakikatnya adalah dari Allah juga. Jadi keliru dan sesat pandangan yg mengatakan bahwa yg baik dari Allah dan yg buruk dari selain Allah.” “…Af’al Allah harus dipahami dari dalam dan dari luar diri. Saat manusia menggoreskan pena misalnya, di situ lah terjadi perpaduan dua kemampuan kodrati yg dipancarkan oleh Allah kepada makhluk-NYA, yakni kemampuan kodrati gerak pena. Di situlah berlaku dalil "Wa Allahu khalaqakum wa ma ta’malun (Qs.Ash-Shaffat:96)", yg maknanya Allah yg menciptakan engkau dan segala apa yg engkau perbuat. Di sini terkandung makna mubasyarah. Perbuatan yg terlahir dari itu disebut al-tawallud. Misalnya saya melempar batu. Batu yg terlempar dari tangan saya itu adalah berdasarkan kemampuan kodrati gerak tangan saya. Di situ berlaku dalil "Wa ma ramaita idz ramaita walakinna Allaha rama (Qs.Al-Anfal:17)", maksudnya bukanlah engkau yg melempar, melainkan Allah jua yg melempar ketika engkau melempar. Namun pada hakikatnya antara mubasyarah dan al-tawallud hakikatnya satu, yakni af’al Allah sehingga berlaku dalil la haula wa la quwwata illa bi Allahi al-‘aliyi al-‘adzimi. Rosulullah bersabda “La tataharraku dzarratun illa bi idzni Allahi", yg maksudnya tidak akan bergerak satu dzarah pun melainkan atas idzin Allah.”

Eksistensi manusia yg manunggal ini akan nampak lebih jelas peranannya, dimana manusia tidak lain adalah ke-Esa-an dalam af’al Allah. Tentu ke-Esa-an bukan sekedar af’al, sebab af’al digerakkan oleh dzat. Sehingga af’al yg menyatu menunjukkan adanya ke-Esa-an dzat, kemana af’al itu dipancarkan.

5. “Di dunia ini kita merupakan mayat-mayat yg cepat juga akan menjadi busuk dan bercampur tanah. Ketahuilah juga apa yg dinamakan kawula-Gusti tidak berkaitan dgn seorang manusia biasa seperti yg lain-lain. Kawula dan Gusti itu sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya untuk saat ini nama kawula-Gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya sudah hidup lagi, Gusti dan kawula lenyap, yg tinggal hanya hidupku sendiri, ketentraman langgeng dalam ADA sendiri. Bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku maka dgn tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian. Di sini memang terdapat banyak hiburan aneka warna. Lebih banyak lagi hal-hal yg menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera. Itu hanya impian yg sama sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan cepat lenyap. Gilalah orang yg terikat padanya. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yg kuusahakan, ialah kembali kepada kehidupan.”

Syekh Siti Jenar menyatakan dgn tegas bahwa dirinya sebagai Tuhan, ia memiliki hidup dan Ada dalam dirinya sendiri, serta menjadi Pangeran bagi seluruh isi dunia. Sehingga didapatkan konsistensi antara keyakinan hati, pengalaman keagamaan, dan sikap perilaku dzahirnya. Juga ditekankan satu hal yg selalu tampil dalam setiap ajaran Syekh Siti Jenar. Yakni pendapat bahwa manusia selama masih berada di dunia ini sebetulnya mati, baru sesudah ia dibebaskan dari dunia ini, akan dialami kehidupan sejati. Kehidupan ini sebenarnya kematian ketika manusia dilahirkan. Badan hanya sesosok mayat karena ditakdirkan untuk sirna. (bandingkan dengan Zoetmulder; 364). Dunia ini adalah alam kubur, dimana roh suci terjerat badan wadag yg dipenuhi oleh berbagai goda-nikmat yg menguburkan kebenaran sejati dan berusaha menguburkan kesadaran Ingsun Sejati.


Semoga yg ini bermanfaat dalam kepasrahan yg tidak bisa dipikir dgn Akal tapi dengan Hati yang sulit mengungkapkan rasa Cinta itu secara Tulus....
Walaupun rasa Cinta itu sulit diungkapkan dgn bahasa kita yg sangat terbatas ini.....amin....amin


SURGA DAN NERAKA Syekh Siti Jenar

“anal jannatu wa nara katannalr al anna”, sering digunakan oleh Syekh Siti Jenar dalam menjelaskan hakikat surga dan neraka. Penulisan yg benar nampaknya adalah “inna al-janatu wa al-naru qath’un ‘an al-ana” (Sesungguhnya keberadaan surga dan neraka itu telah nyata adanya sejak sekarang atau di dunia ini).
Sesungguhnya, menurut ajaran Islam pun, surga dan neraka itu tidaklah kekal. Yang menganggap kekal surga dan neraka itu adalah kalangan awam. Sesungguhnya mereka berdua wajib rusak dan binasa.
Bagi Syekh Siti Jenar, surga atau neraka bukanlah tempat tertentu untuk memberikan pembalasan baik dan buruknya manusia. Surga neraka adalah perasaan roh di dunia, sebagai akibat dari keadaan dirinya yg belum dapat menyatu-tunggal dgn Allah. Sebab bagi manusia yg sudah memiliki ilmu kasampurnan, jelas bahwa ketika mengalami kematian dan melalui pintunya, ia kembali kepada Hidup Yang Agung, hidup yang tan kena kinaya ngapa (hidup sempurna abadi sebagai Sang Hidup). Yaitu sebagai puncak cita-cita dan tujuan manusia.
Jadi, karena surga dan neraka itu ternyata juga makhluk, maka surga dan neraka tidaklah kekal, dan juga bukanlah tempat kembalinya manusia yang sesungguhnya. Sebab tidak mungkin makhluk akan kembali kepada makhluk, kecuali karena keadaan yang belum sempurna hidupnya. Oleh al-Qur’an sudah ditegaskan bahwa tempat kembalinya manusia hanya Allah, yang tidak lain adalah proses kemanunggalan ……ilaihi raji’un, ilaihi al-mashir………
PUASA dan HAJI Syekh Siti Jenar

“Syahadat, shalat dan puasa itu, sesuatu yang tidak diinginkan, jadi tidak perlu. Adapun zakat dan naik haji ke Makah, itu semua omong kosong (palson kabeh). Itu seluruhnya kedurjanaan budi, penipuan terhadap sesama manusia. Orang-orang dungu yg menuruti aulia, karena diberi harapan surga di kelak kemudian hari, itu sesungguhnya keduanya orang yang tidak tahu. Lain halnya dengan saya, Siti Jenar.”
“Tiada pernah saya menuruti perintah budi, bersujud-sujud di mesjid mengenakan jubah, pahalanya besok saja, bila dahi sudah menjadi tebal, kepala berbelulang. Sesungguhnya hal ini idak masuk akal! Di dunia ini semua manusia adalah sama. Mereka semua mengalami suka-duka, menderita sakit dan duka nestapa, tiada beda satu dengan yang lain. Oleh karena itu saya, Siti Jenar, hanya setia pada satu hal saja, yaitu Gusti Zat Maulana.”

Syekh Siti jenar menyebutkan bahwa syariat yang diajarkan para wali adalah “omong kosong belaka”, atau “wes palson kabeh”(sudah tidak ada yang asli). Tentu istilah ini sangat amat berbeda dengan anggapan orang selama ini, yang menyatakan bahwa Syekh Siti Jenar menolak syari’at Islam. Yang ditolak adalah reduksi atas syari’at tersebut. Syekh Siti Jenar menggunakan istilah “iku wes palson kabeh”, yg artinya “itu sudah dipalsukan atau dibuat palsu semua.” Tentu ini berbeda pengertiannya dengan kata “iku palsu kabeh” atau “itu palsu semua.”
Jadi yang dikehendaki Syekh Siti Jenar adalah penekanan bahwa syari’at Islam pada masa Walisanga telah mengalami perubahan dan pergeseran makna dalam pengertian syari’at itu. Semuanya hanya menjadi formalitas belaka. Sehingga manfaat melaksanakan syariat menjadi hilang. Bahkan menjadi mudharat karena pertentangan yang muncul dari aplikasi formal syariat tsb.
Bagi Syekh Siti Jenar, syariat bukan hanya pengakuan dan pelaksanaan, namun berupa penyaksian atau kesaksian. Ini berarti dalam pelaksanaan syariat harus ada unsur pengalaman spiritual. Nah, bila suatu ibadah telah menjadi palsu, tidak dapat dipegangi dan hanya untuk membohongi orang lain, maka semuanya merupakan keburukan di bumi.
Apalagi sudah tidak menjadi sarana bagi kesejahteraan hidup manusia. Ditambah lagi, justru syariat hanya menjadi alat legitimasi kekuasaan (seperti sekarang ini juga). Yang mengajarkan syari’at juga tidak lagi memahami makna dan manfaat syari’at itu, dan tidak memiliki kemampuan mengajarkan aplikasi syari’at yg hidup dan berdaya guna. Sehingga syari’at menjadi hampa makna dan menambah gersangnya kehidupan rohani manusia.
Nah, yg dikritik Syekh Siti Jenar adalah shalat yg sudah kehilangan makna dan tujuannya itu. Shalat haruslah merupakan praktek nyata bagi kehidupan. Yakni shalat sebagai bentuk ibadah yg sesuai dgn bentuk profesi kehidupannya. Orang yg melakukan profesinya secara benar, karena Allah, maka hakikatnya ia telah melaksanakan shalat sejati, shalat yg sebenarnya. Orientasi kepada yang Maha Benar dan selalu berupaya mewujudkan Manunggaling Kawula Gusti, termasuk dalam karya, karsa-cipta itulah shalat yg sesungguhnya.
Makna Ihsan

“Itulah yang dianggap Syekh Siti Jenar Hyang Widi. Ia berbuat baik dan menyembah atas kehendak-NYA. Tekad lahiriahnya dihapus. Tingkah lakunya mirip dengan pendapat yg ia lahirkan. Ia berketetapan hati untuk berkiblat dan setia, teguh dalam pendiriannya, kukuh menyucikan diri dari segala yg kotor, untuk sampai menemui ajalnya tidak menyembah kepada budi dan cipta. Syekh Siti Jenar berpendapat dan menggangap dirinya bersifat Muhammad, yaitu sifat rasul yg sejati, sifat Muhammad yg kudus.”

“Gusti Zat Maulana. Dialah yg luhur dan sangat sakti, yg berkuasa maha besar, lagipula memiliki dua puluh sifat, kuasa atas kehendak-NYA. Dialah yg maha kuasa, pangkal mula segala ilmu, maha mulia, maha indah, maha sempurna, maha kuasa, rupa warna-NYA tanpa cacat seperti hamba-NYA. Di dalam raga manusia Ia tiada nampak. Ia sangat sakti menguasai segala yg terjadi dan menjelajahi seluruh alam semesta, Ngidraloka”.

Dua kutipan di atas adalah aplikasi dari teologi Ihsan menurut Syekh Siti Jenar, bahwa sifatullah merupakan sifatun-nafs. Ihsan sebagaimana ditegaskan oleh Nabi dalam salah satu hadistnya (Sahih Bukhari, I;6), beribadah karena Allah dgn kondisi si ‘Abid dalam keadaan menyaksikan (melihat langsung) langsung adanya si Ma’bud. Hanya sikap inilah yg akan mampu membentuk kepribadian yg kokoh-kuat, istiqamah, sabar dan tidak mudah menyerah dalam menyerukan kebenaran.
Sebab Syekh Siti Jenar merasa, hanya Sang Wujud yg mendapatkan haq untuk dilayani, bukan selain-NYA. Sehingga, dgn kata lain, Ihsan dalam aplikasinya atas pernyataan Rasulullah adalah membumikan sifatullah dan sifatu-Muhammad menjadi sifat pribadi.
Dengan memiliki sifat Muhammad itulah, ia akan mampu berdiri kokoh menyerukan ajarannya dan memaklumkan pengalamannya dalam “menyaksikan langsung” ada-NYA Allah. “Persaksian langsung” itulah terjadi dalam proses manunggal.


“Hyang Widi, wujud yg tak nampak oleh mata, mirip dengan ia sendiri, sifat-sifatnya mempunyai wujud, seperti penampakan raga yg tiada tampak. Warnanya melambangkan keselamatan, tetapi tanpa cahaya atau teja, halus, lurus terus-menerus, menggambarkan kenyataan tiada berdusta, ibaratnya kekal tiada bermula, sifat dahulu yg meniadakan permulaan, karena asal dari diri pribadi.”

Ihsan berasal dari kondisi hati yg bersih. Dan hati yg bersih adalah pangkal serta cermin seluruh eksistensi manusia di bumi. Keihsanan melahirkan ketegasan sikap dan menentang ketundukan membabi-buta kepada makhluk. Ukuran ketundukan hati adalah Allah atau Sang Pribadi. Oelh karena itu, sesama manusia dan makhluk saling memiliki kemerdekaan dan kebebasan diri. Dan kebebasan serta kemerdekaan itu sifatnya pasti membawa kepada kemajuan dan peradaban manusia, serta tatanan masyarakat yg baik, sebab diletakkan atas landasan Ke-Ilahian manusia. Penjajahan atas eksistensi manusia lain hakikatnya adalah bentuk dari ketidaktahuan manusia akan Hyang Widhi…Allah (seperti Rosul sering sekali mengatakan bahwa “Sesungguhnya mereka tidak mengerti”).
Karena buta terhadap Allah Yang Maha Hadir bagi manusia itulah, maka manusia sering membabi-buta merampas kemanusiaan orang lain. Dan hal ini sangat ditentang oleh Syekh Siti Jenar. Termasuk upaya sakralisasi kekuasaan Kerajaan Demak dan Sultannya, bagi Syekh Siti Jenar harus ditentang, sebab akan menjadi akibat tergerusnya ke-Ilahian ke dalam kedzaliman manusia yang mengatasnamakan hamba Allah yg shalih dan mengatasnamakan demi penegakan syari’at Islam.

Pribadi adalah pancara roh, sebagai tajalli atau pengejawantahan Tuhan. Dan itu hanya terwujud dengan proses wujudiyah, Manuggaling Kawula-Gusti, sebagai puncak dan substansi tauhid. Maka manusia merupakan wujud dari sifat dan dzat Hyang Widi itu sendiri. Dengan manusia yg manunggal itulah maka akan menjadikan keselamatan yg nyata bukan keselamatan dan ketentraman atau kesejahteraan yg dibuat oleh rekayasa manusia, berdasarkan ukurannya sendiri. Namun keselamatan itu adalah efek bagi terejawantah-NYA Allah melalui kehadiran manusia.
Sehingga proses terjadinya keselamatan dan kesejahteraan manusia berlangsung secara natural (sunnatullah), bukan karena hasil sublimasi manusia, baik melalui kebijakan ekonomi, politik, rekayasa sosial dan semacamnya sebagaimana selama ini terjadi. Maka dapat diketahui bahwa teologi Manuggaling Kawula Gusti adalah teologi bumi yg lahir dengan sendirinya sebagai sunnatullah. Sehingga ketika manusia mengaplikasikannya, akan menghasilkan manfaat yg natural juga dan tentu pelecehan serta perbudakan kemanusiaan tidak akan terjadi, sifat merasa ingin menguasai, sifat ingin mencari kekuasaan, memperebutkan sesama manusia tidak akan terjadi. Dan tentu saja pertentangan antar manusia sebagai akibat perbedaan paham keagamaan, perbedaan agama dan sejenisnya juga pasti tidak akan terjadi.


karyamenawi

image

Pembuatan web

menerima pembuatan website : toko onlen, blog, profil perusahaan

counter

counter

sms gratis

Click here to Vote!

banner









pagerank

watumas

mari bersahabat, berbisnis, dan berbagi info....

image

fOREVER IN LOVE

dI tempat dingin itu, berkabut dan sepi....

link download

cuaca

English
French
German
Spain
Italian
Dutch
Japanese

cursor tempelan

huawahahahahahahahahahhahahahahahahahahahahahahahahahahahah